PBB Peringatkan Kondisi Darurat Bagi Warga yang Terpaksa Mengungsi Akibat Israel di Gaza Utara
Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang menangani pengungsi Palestina, UNRWA, telah menyampaikan peringatan mengenai "kondisi mengerikan" yang dialami oleh warga yang baru saja mengungsi akibat perintah pemindahan paksa oleh militer Israel di wilayah Beit Hanoon dan Beit Lahiya, Gaza utara.
Menurut UNRWA, warga kini tinggal di tenda-tenda darurat setelah mengalami pemindahan paksa oleh Israel.
“Dengan keterbatasan makanan dan air, sebagian dari mereka kini tinggal di tenda-tenda darurat di jalan utama dekat kompleks utama UNRWA di Gaza,” demikian pernyataan dari badan PBB tersebut pada Jumat (28/3/2025), sebagaimana dikutip dari Al Jazeera.
Philippe Lazzarini, Kepala UNRWA, mengungkapkan bahwa selama lebih dari tiga minggu tidak ada bantuan kemanusiaan yang dapat masuk ke Gaza. Padahal, sebelum Israel memberlakukan blokade dan melanggar gencatan senjata awal bulan ini, sekitar 500 hingga 600 truk berisi pasokan kemanusiaan dapat mencapai wilayah tersebut.
"Gaza adalah masa tergelap umat manusia," ujar Lazzarini dalam unggahan di media sosialnya.
Sementara itu, Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) melaporkan bahwa antara 18 hingga 24 Maret, sebanyak 82 persen upaya penyaluran bantuan kemanusiaan di Gaza ditolak oleh militer Israel.
"Tugas-tugas penting seperti mengambil pasokan penting atau mengisi bahan bakar di toko roti diblokir secara efektif," tulis OCHA dalam unggahannya di media sosial.
Blokade yang telah berlangsung selama tiga minggu oleh Israel terhadap bantuan yang masuk ke Gaza serta larangan pergerakan aman bagi badan-badan kemanusiaan di dalam wilayah tersebut bertepatan dengan peringatan dari Program Pangan Dunia PBB (WFP). WFP menyatakan bahwa “ratusan ribu” warga Gaza kembali menghadapi kelaparan dan kekurangan gizi yang semakin parah.
“Perluasan aktivitas militer di Gaza sangat mengganggu operasi bantuan pangan dan membahayakan nyawa para pekerja bantuan setiap hari,” ungkap WFP dalam pernyataannya.
Persediaan Makanan di Gaza Hanya Bertahan Dua Minggu
Mengutip laporan dari Al Arabiya, WFP menyatakan bahwa stok makanan mereka di Gaza hanya cukup untuk dua minggu ke depan. Saat ini, ratusan ribu warga di wilayah tersebut menghadapi risiko kelaparan parah dan malnutrisi.
“WFP memiliki sekitar 5.700 ton stok makanan yang tersisa di Gaza – cukup untuk mendukung operasi WFP selama maksimal dua minggu,” ungkap badan yang berbasis di Roma tersebut dalam pernyataan resminya pada Kamis (27/3/2025).
WFP menambahkan bahwa situasi keamanan yang semakin memburuk serta proses pengungsian yang cepat membuat mereka harus mendistribusikan makanan secepat dan sebanyak mungkin.
Sebagai langkah antisipasi, WFP memutuskan untuk mengurangi jatah makanan individu agar dapat menjangkau lebih banyak penerima manfaat.
Badan tersebut menargetkan pendistribusian paket makanan bagi sekitar 500.000 orang, di mana setiap paket diharapkan dapat mencukupi kebutuhan satu keluarga selama kurang lebih satu minggu.
Sementara itu, Israel terus melanjutkan operasi militernya di wilayah Palestina sejak lebih dari satu minggu lalu. Hal ini mengakhiri ketenangan sementara yang sebelumnya tercipta akibat gencatan senjata yang rapuh.
Pada Rabu, PBB melaporkan bahwa operasi terbaru Israel telah menyebabkan 142.000 warga Palestina kehilangan tempat tinggal hanya dalam waktu tujuh hari. Selain itu, mereka juga memperingatkan bahwa pasokan bantuan semakin menipis akibat berlanjutnya pemblokiran yang dilakukan Israel terhadap bantuan kemanusiaan yang hendak masuk ke Gaza.
Pejabat Israel mengklaim bahwa operasi militer terbaru ini bertujuan untuk memberikan tekanan kepada Hamas, yang menguasai Gaza, agar membebaskan para sandera yang masih ditahan. Langkah ini diambil setelah pembicaraan dengan mediator mengenai perpanjangan gencatan senjata mengalami kebuntuan.
Perkembangan Terkini Konflik Palestina vs Israel
Tujuh warga Palestina dilaporkan tewas dalam serangan Israel yang terjadi di sebuah pasar ramai di Gaza tengah. Secara keseluruhan, lebih dari 40 orang tewas dalam berbagai serangan yang berlangsung selama 24 jam terakhir di wilayah tersebut.
Program Pangan Dunia PBB kembali menegaskan bahwa ribuan warga Palestina kini menghadapi ancaman kelaparan yang semakin parah. Sementara itu, UNRWA mengungkapkan bahwa selama lebih dari tiga minggu tidak ada bantuan yang berhasil masuk ke Gaza.
Di Lebanon selatan, serangan terbaru Israel juga menyebabkan enam orang tewas, menurut laporan dari Kementerian Kesehatan setempat.
Di Gaza, serangan Israel telah memasuki hari ke-11, menewaskan puluhan warga Palestina. Di antara korban, terdapat tujuh orang yang menjadi korban serangan di sebuah pasar di pusat wilayah yang terkepung itu.
Selain itu, serangan Israel turut menewaskan pekerja amal dari organisasi World Central Kitchen. Dengan demikian, jumlah total staf organisasi bantuan pangan yang kehilangan nyawa dalam perang ini telah mencapai 12 orang.
Di kota Hebron, Tepi Barat yang diduduki, pasukan Israel telah melarang warga Palestina untuk mengakses Masjid Ibrahimi secara penuh. Larangan ini berlaku untuk hari Jumat keempat berturut-turut selama bulan suci Ramadan.
Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan bahwa jumlah korban tewas akibat serangan Israel telah mencapai 50.208 orang, sementara 113.910 lainnya mengalami luka-luka.
Kantor Media Pemerintah Gaza memperbarui jumlah korban jiwa menjadi lebih dari 61.700 orang. Mereka juga menyebut bahwa ribuan warga Palestina yang masih hilang di bawah reruntuhan kemungkinan besar telah meninggal dunia.
Di sisi lain, sebanyak 1.139 orang di Israel dilaporkan tewas akibat serangan Hamas pada 7 Oktober 2023. Selain itu, lebih dari 200 orang dilaporkan masih ditawan oleh kelompok tersebut.***
Posting Komentar untuk "PBB Peringatkan Kondisi Darurat Bagi Warga yang Terpaksa Mengungsi Akibat Israel di Gaza Utara"
Posting Komentar