120
Normal
0
false
false
false
EN-US
X-NONE
AR-SA
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Calibri”,sans-serif;
mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;}
Penderita DBD Kian Meningkat, Negara Harus Sigap
Hadapi
Oleh : Selvy Octaviani S.E
Kementrian Kesehatan melaporkan kasus Demam
Berdarah Dengue (DBD) di Indonesia mencapai hampir 16 ribu kasus. Direktur
Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kementrian Kesehatan (Kemenkes),
Imran Pambudi menyebut, angka kematian akibat DBD di Indonesia tercatat sudah
mencapai 124 kasus. (Dikutip dari rri.co.id Rabu, 06 Maret 2024).
Misalnya saja di Bontang Kaltim, penderita DBD
pada Januari 2024 lalu mencapai 65 kasus. kasus kematian pun tidak dapat
terhindarkan. Jumlah ini mendekati pola maksimal kurun lima tahun belakangan.
Tepatnya di tahun 2019 kasus DBD di Januari mencapai 74 kasus. Dari data yang
ada, Berebes Tengah merupakan kelurhan dengan jumlah tertinggu kasusnya yaitu
22 penderita.
Banyaknya jumlah penderita DBD di Kota Taman pada
Januari lalu, mendapat sorotan anggota dewan. Wakil ketua DPRD Agus Haris
meminta pemkot mengambil langkah sigap untuk menekan angka penderita maupun
kematian akibat DBD. Salah satu upaya penanganan yang dilakukan ialah
mengeluarkan kebijakan pemberian vaksin dengue terhadap anak-anak. Langkah ini
sedang dilaksanakan di Balikpapan.
Penanggulanan DBD
DBD merupakan penyakit yang sangat berbahaya
hingga dapat meningkatkan angka kematian yang tinggi. Terlebih DBD rentan
menjangkiti usia anak-anak. Penyebab tingginya DBD dipicu oleh musim hujan,
terlebjh perubahan cuaca yang tidak menentu. Membuat jentik nyamuk sangat mudah
berkembangbiak dan jumlahnya banyak. Sebab banyaknya genangan air yang tidak
terbuang di sekitar wilayah pemukiman, seperti tempat penampungan air hujan
yang tidak ditutup, bekas sampah, kaleng dan lain sebagainya.
Sebenarnya DBD dapat di cegah dengan cara-cara
sederhana seperti tidak lupa menguras dan menutup tempat penampungan air,
mendaur ulang barang yang berpotensi menjadi sarang nyamung dan lain
sebagainya. Namun faktanya, kesadaran masyarakat dalam memperhatikan hal
tersebut masih sangat kurang. Terutama memperhatikan kebersihan lingkungan yang
menjadi pemicu signifikan terjadinya wabah DBD.
Pentingnya melakukan edukasi dan pembinaan harus
senantiasa dilakukan guna kembali menyadarkan masyarakat untuk senantiasa
menciptakan kehidupan yang bersih dan sehat yang harus di wujudkan oleh semua
pihak yakni keluarga, masyarakat maupun negara. Karena mencegah lebih utama
dari pada mengobati.
Mengapa DBD Terus Meningkat?
Berdasarkan data, nyatanya Kasus penderita dan kematian
akibat DBD senantiasa mengalami peningkatan. kasusnya bukan hanya terjadi di Bontang
saja. Tetapi ada juga di beberapa daerah kaltim lainnya. Ada 5.616 kasus DBD di
kaltim sepanjang tahun 2023, dengan jumlah tertinggi di Kukar 1.118 kasus, di
ikuti Balikpapan 1.019 kasus dan Samarinda 868 kasus.
Belum ada penyelesaian tuntas terhadap persoalan
ini. Untuk wilayah kaltim sendiri misalnya, Upaya pemerintah dalam menangani
kasus DBD terkesan uji coba. Mulai dari progran nyamuk walbacia yang menjadikan
Bontang satu-satunya kota percontohan yang mewakili Provinsi tersebut untuk menekan angka kasus DBD.
Namun program ini ternyata membutuhkan waktu yang
sangat panjang dan masih dalam tahap uji coba artinya kemungkinan nya untuk
berhasil masih sangat minim. Terlebih peningkatan kasus DBD masih terus
terjadi. Adapun upaya lainnya, pemerintah kembali mengeluarkan kebijakan
vaksin.
Realitanya vaksin yang harus di akses ini tidak
dapat dijangkau semua kalangan secara gratis. Harga sekali vaksin saja bisa
kisaran 300 ribu dan 600 ribu ketika di dokter. Padahal masyarakat yang
terjangkit DBD itu bisa saja bukan kalangan orang menengah ke atas yang mudah
mengakses biaya dokter. Tapi ada juga dari mereka yang hidup dikalangan
menengah kebawah, untuk memenuhi biaya hidup saja kekurangan apalagi biaya
dokter dengan harga sangat besar tadi. Tentu tidak dapat terjangkau oleh mereka.
Kebijakan Kapitalistik
Persoalan wabah DBD ternyata tidak dapat
dilepaskan dari penetapan kebijakan kapitalistik. Kebijakan ekonomi yang
kapitalistik menjadikan rakyat sulit mendapatkan kebutuhan dasarnya termasuk
kesehatan gratis. Ketika masyarakat mau sehat, maka mereka harus membayar mahal
atas itu. Kenapa? karena kesehatan sudah menjadi alat komersialisasi yang
menguntungkan penguasa dan pengusaha. Karena mereka menjadikan rakyat sebagai
konsumen untuk membeli menjual obat-obatan yang mereka pasarkan.
Miris, kapitalis benar-benar menjadikan rakyat
miskin. Untuk menikmati kesehatan saja sangat sulit bagi mereka. Karena
kesehatan hanya mampu di akses oleh segelintir orang yang punya modal.
Sedangkan mereka yang miskin harus rela menahan rasa sakit yang diderita karena
tidak mampu membayar dokter ataupun membeli obat.
Seperti halnya DBD ini, penyakit yang memerlukan
penangan cepat. Jika tidak, hal terburuknya bisa menyebabkan kematian.
Fasilitas kesehatan hari ini juga tidak menyebar secara merata. Melimpah di
perkotaan dan sangat minim di desa, padahal akses yang diperlukan untuk ke
rumah sakit terdekat pun bisa jadi sangat minim dan terlampau jauh. Inilah
bukti cacatnya sistem kapitalis yang menyuburkan kemudhorotan bagi umat.
Selesai Dengan Islam.
Islam merupakan agama pembawa rahmat bagi seluruh
alam. Seperti kata pepatah “Kebersihan Sebagian Dari Iman”.
Senantiasa mengedukasi dan menyadarkan masyarakat bahwa menjaga kesehatan
adalah bagian dari perintah Allah dengan dorongan iman dan takwa. Karena
masyarakat didalam islam adalah mereka yang peduli terhadap kebersihan
lingkungannya. Menjaga Kebersihan lingkungan agar tetap bersih dan sehat
tentunya mampu mengurangi penyakit. Termasuk DBD tadi.
Kesehatan di dalam Islam merupakan hak dan
kewajiban negara, maka negara akan memberikan fasilitas kesehatan dan tenaga
kesehatan terbaik yang di alokasikan ke seluruh penjuru negeri agar mampu di
akses semua kalangan masyarakat. Memberikan akses kesehatan secara murah bahkan
gratis agar tidak menyulitkan masyrakat mengaksesnya. Senantiasa mengembangkan
penelitian dan obat-obatan demi kemaslahan umat. Inilah jaminan islam untuk
menyelesaikan masalah wabah seperti DBD. Wallahu a’lam bisawab.
