Warnai Dengan Al-Qur’an

WARNAI DENGAN AL-QUR’AN
Oleh : Ani Marlia

800×600

Normal
0

false
false
false

EN-US
X-NONE
AR-SA

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Calibri”,sans-serif;
mso-bidi-font-family:Arial;}

 

 

Anak-anak
merupakan amanah terbesar dari Allah yang harus dijaga, dilindungi, dan dirawat
dengan baik. Apalagi orang tua berperan penting dalam tumbuh kembang seorang
anak. Baik buruknya seorang anak tergantung orang tua ketika mendidik di waktu
kecil. Seperti kata Imam Ghazali, “Anak-anak kita adalah mutiara”. Memang benar
anak-anak itu bagai mutiara yang tak ternilai harganya. Bagaimana caranya agar
mutiara tersebut tetap ada nilainya? Itu semua tergantung bagaiamana cara orang
tua menjaga dan merawatnya.

Tidak
jarang beberapa orang tua ketika anaknya menangis kebingungan untuk menenangkanya,
dan berkata, “Waah, lihat itu burung
di langit,” padahal di langit tidak ada burung. Menurut ilmu psikologi, ketika
anak menangis diminta untuk melihat ke atas. Namun, tanpa sadar orang tua
mengajarkan ketidakjujuran. Ketika anak jatuh, orang tua menyalahkan lantainya.
Tanpa sadar juga orang tua mengajarkan anak mengkambing-hitamkan lantai. Meski
hal sepele tetapi itu kurang baik, karena setiap ucapan akan
dipertanggungjawabkan kelak di akhirat. Itulah mengapa ketika dewasa beberapa
anak merasa takut untuk mencoba hal baru, kurang percaya diri dan lain
sebagainya.

“Ketika
anak diabaikan pada masa pertumbuhan awal, umumnya ia akan berakhlak buruk, seperti
pendusta, pendengki, pencuri, suka mengadu domba, suka meminta, suka melakukan
hal-hal tiada guna, suka tertawa, dan bertindak gila. Semua ini bisa dihindari
dengan pendidikan yang baik.” Tutur Imam Ghazali.

Tidak
berhenti pada orang tua saja, pendidik atau sering disebut orang tua kedua di
sekolah juga turut berkontribusi besar dalam mencetak karakter anak-anak.
Negara akan maju jika memiliki generasi yang berpotensi, pemberani, mandiri,
dan berakhlak mulia. Melihat moral anak-anak saat ini cukup memperihatinkan,
perlahan tergerus oleh zaman yang semakin modern.
Di sinilah tugas seorang pendidik mengarahkan anak didiknya kepada kebaikan,
sebagai fasilitator dalam belajar, sebagai
uswah
(teladan) di sekolah. Sebab setiap tindakan yang dilakukan seorang
pendidik akan direkam anak didiknya, apalagi anak usia dini bisa dikatakan
peniru ulung. Untuk itu harus berhati-hati setiap hendak berkata maupun
bertindak.

Mendidik
tidak asal-asalan, ada ilmunya. Apalagi mendidik anak-anak, harus penuh kasih
sayang dan penuh cinta. Kenapa demikian? Karena anak-anak tidak bisa dipaksa
ataupun dikasari. Hati mereka lembut, sulit ditebak, dan suka bermain. Agar
dapat bersama mereka, orang tua dan pendidik harus bisa masuk pada dunianya. Untuk
itu, orang tua dan pendidik hendaknya berkolaborasi dengan baik dalam mendidik
anak-anak. Mumpung hati mereka masih bersih tak terwarnai, warnai hati mereka
dengan Al Qur’an agar senantiasa yang diperbuat maupun diucapkan tidak jauh
dari koridor Islam. Waallahu ‘alam..

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top