Penyebab Harga Rumah yang Kian Melonjak

 

Berkurangnya Ruang Hidup: Penyebab Harga Rumah yang Kian Melonjak
Bagaimana Cara Islam Mengatasinya?
Oleh: Tresna Mustikasari, S.Si (Muslimah Penggiat Literasi)

Pada era perkembangan kota-kota modern, kebutuhan akan tempat
tinggal semakin meningkat seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk. Salah
satu dampak nyata dari pertumbuhan perkotaan adalah keterbatasan ruang hidup
yang berujung pada kenaikan harga rumah. Kenaikan harga rumah menjadi isu utama
yang mempengaruhi kemampuan masyarakat, terutama generasi muda, dalam memiliki
rumah. Beberapa upaya, baik dari pemerintah maupun tokoh-tokoh publik,
dilakukan untuk memberikan bantuan dan mempermudah akses rumah bagi rakyat. Bahkan
Krisis perumahan telah menjadi isu global yang memengaruhi berbagai lapisan
masyarakat, termasuk di Indonesia. Bagaimana perspektif Islam terkait hal itu?
Dapatkah Islam memberikan solusi terhadap masalah ini?

Pertumbuhan perkotaan yang pesat seringkali diiringi dengan
pembangunan infrastruktur dan perumahan. Sayangnya, hal ini sering berdampak
pada berkurangnya lahan yang tersedia untuk tempat tinggal. Lahan yang semakin
terbatas menyebabkan peningkatan harga tanah, yang kemudian menjadi salah satu
faktor utama kenaikan harga rumah. Permintaan yang tinggi namun lahan yang terbatas
menciptakan ketidakseimbangan antara penawaran dan permintaan, yang mendorong
harga rumah terus naik.

Dalam perspektif Islam, rumah dianggap sebagai salah satu
kebutuhan pokok yang harus dipenuhi oleh negara. Islam memandang bahwa
pemenuhan kebutuhan dasar, termasuk tempat tinggal, adalah tanggung jawab
bersama negara untuk rakyatnya. Dalam konteks ini, pembangunan negara
seharusnya diorientasikan untuk memastikan bahwa setiap individu memiliki akses
yang layak terhadap tempat tinggal. Dengan demikian, pembangunan negara
seharusnya tidak hanya mencakup infrastruktur fisik tetapi juga pemenuhan
kebutuhan dasar, termasuk perumahan.

Islam memiliki sistem ekonomi yang khas, di mana aspek pelayanan
terhadap rakyat menjadi fokus utama negara. Dalam konteks penyediaan rumah,
Islam memberikan landasan bagi negara untuk aktif terlibat dalam menyediakan
tempat tinggal bagi warganya. Konsep zakat dan wakaf, yang merupakan bagian
dari prinsip-prinsip ekonomi Islam, dapat digunakan sebagai instrumen untuk
menyediakan rumah yang adil dan merata bagi mereka yang membutuhkan.

Berbeda dengan Kapitalisme, dalam Kapitalisme negara cenderung
menjadi jembatan bagi pembisnis properti dan kaum kapital saja. Misalnya dalam
program penyediaan rumah bersubsidi, realitasnya negara bukan sedang memberikan
keuntungan kepada rakyat miskin yang membutuhkan, tapi justru keuntungan bagi
kaum kapital karena dana berkedok subsidi negara segera cair ke kantong-kantong
mereka di lain sisi masyarakat terikat pembayaran kredit rumah bertahun-tahun
lamanya dengan bunga angsuran yang tentu kian meningkat. Sulit dan ribetnya
syarat administrasi dalam membeli rumah subsidi pun menunjukkan program
tersebut rawan tidak tepat sasaran dan dimanfaatkan oleh kalangan tertentu
saja.

Oleh karena itu, jelaslah Islam memiliki solusi dan mekanisme
terbaik dalam permasalahan perumahan saat ini. Dengan menerapkan
prinsip-prinsip ekonomi Islam, negara dapat berperan aktif dalam mengatasi
tantangan krisis perumahan, termasuk memastikan adanya alokasi sumber daya yang
tepat. Sistem ekonomi Islam menekankan keadilan distributif dan keberpihakan
kepada kaum miskin. Melalui implementasi konsep-konsep seperti zakat dan wakaf,
negara dapat secara aktif terlibat dalam menyediakan rumah bagi warga yang
kurang mampu tanpa mempedulikan aspek keuntungan, karena negara bukanlah bagian
dari pengusaha dan kaum kapital, tapi negara adalah pelayan dan pengurus urusan
rakyatnya.

Maka,
jelaskan dalam permasalahan minimnya ruang hidup saat ini diperlukan pendekatan
holistik yang melibatkan nilai-nilai Islam dan peran aktif negara. Dengan
menggabungkan konsep-konsep ekonomi Islam dan tanggung jawab negara, Islam menciptakan
solusi yang adil dan berkelanjutan dalam memenuhi kebutuhan perumahan rakyat. Wallohu’alam

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top