{"id":114,"date":"2023-07-16T22:17:00","date_gmt":"2023-07-16T22:17:00","guid":{"rendered":"https:\/\/onislam.my.id\/index.php\/2023\/07\/16\/kesenangan-yang-menipu\/"},"modified":"2026-01-26T15:27:25","modified_gmt":"2026-01-26T15:27:25","slug":"kesenangan-yang-menipu","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/onislam.my.id\/index.php\/2023\/07\/16\/kesenangan-yang-menipu\/","title":{"rendered":"KESENANGAN YANG MENIPU"},"content":{"rendered":"<div class=\"separator\" style=\"clear: both;text-align: center\"><a href=\"http:\/\/onislam.my.id\/wp-content\/uploads\/2023\/07\/ByPrFi1CIAAxmw6.jpg\" style=\"margin-left: 1em;margin-right: 1em\"><img decoding=\"async\" alt=\"Muhasabah\" border=\"0\" data-original-height=\"400\" data-original-width=\"600\" src=\"http:\/\/onislam.my.id\/wp-content\/uploads\/2023\/07\/ByPrFi1CIAAxmw6.jpg\" title=\"Muhasabah\" \/><\/a><\/div>\n<p><\/p>\n<p><\/p>\n<p>KESENANGAN YANG MENIPU<\/p>\n<p>Oleh : Pipit Era Martina<\/p>\n<p><\/p>\n<p>Alam dunia berarti alam syahadah, dan antonim dari dunia adalah alam akhirat yang<\/p>\n<p>sifatnya ghaib. Pengertian dunia sendiri mencakup langit (dunia) dan bumi, serta segala<\/p>\n<p>sesuatu yang ada di dalamnya dan semua yang ada di antara langit dan bumi. Menurut<\/p>\n<p>pandangan Islam, sifatnya sementara dan hanya sebentar saja, sebagaimana dijelaskan<\/p>\n<p>dalam pesan Rasulullah SAW yang berpesan kepada Abdullah bin Umar r.a, sambil<\/p>\n<p>memegang pundak iparnya ini,<\/p>\n<p><\/p>\n<p>\u201cJadilah engkau di dunia ini seperti orang asing atau bahkan<\/p>\n<p>seperti orang yang sekedar lewat (musafir).\u201d (Hadits Riwayat Al-Bukhari no. 6416)<\/p>\n<p><\/p>\n<p>Jadi, janganlah terlena akan pesona dunia yang beraneka rupa menggiurkan, karena semua<\/p>\n<p>itu adalah salah satu tipuan setan untuk menjerumuskanmu ke dalam dunia fana, dan<\/p>\n<p>menjauhkan dari nikmatnya bahagia di akhirat. Seperti firman Allah SWT,<\/p>\n<p><\/p>\n<p>\u201cKetahuilah oleh kalian, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan,<\/p>\n<p>perhiasan dan bermegah-megahan di antara kalian serta berbangga-banggaan dengan<\/p>\n<p>banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang karenanya tumbuh tanam-tanaman yang<\/p>\n<p>membuat kagum para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat<\/p>\n<p>warnanya kuning lantas menjadi hancur. Dan di akhirat nanti ada adzab yang keras dan<\/p>\n<p>ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah<\/p>\n<p>kesenangan yang menipu.\u201d (Al-Hadid: 20)<\/p>\n<p><\/p>\n<p>Namun, meski kehidupan di dunia ini hanya sementara, Islam mengajarkan kepada umat<\/p>\n<p>muslim untuk tidak melupakan kehidupan dunia atau melalaikannya. Karena<\/p>\n<p>bagaimanapun juga, dunia merupakan satu-satunya jembatan untuk kita menggapai alam<\/p>\n<p>akhirat. Jika tanpa dunia, maka tiada pula cerita bahagia di alam kedua. Alam dunia<\/p>\n<p>diciptakan oleh Allah SWT untuk menyenangkan umatnya, untuk memberi sedikit celah<\/p>\n<p>bahagia dalam penjara sesaat. Dan Allah SWT meminta manusia untuk mengelola dan<\/p>\n<p>memanfaatkan dunia ini sebaik-baik kita mampu sesuai dengan kebutuhan manusia itu<\/p>\n<p>sendiri, bukan untuk merusak dan memporak-porandakan keindahan alam dengan<\/p>\n<p>kemaksiatan.<\/p>\n<p><\/p>\n<p>Allah SWT tidak serta merta memberikan dunia dengan tanpa peringatan. Bersamaan<\/p>\n<p>dengan diberikannya hak dunia kepada manusia, Allah pun memberi peringatan kepada<\/p>\n<p>manusia untuk tidak terbawa dan terhanyut oleh keindahan dunia sesaat yang jelas-jelas<\/p>\n<p>menyesatkan, karena dunia terlahir dengan beberapa sifat yang tidak baik. Dalam Al-<\/p>\n<p>Qur\u2019an, Allah SWT menjelaskan beberapa point tentang dunia.<\/p>\n<p><\/p>\n<p>\u201cKehidupan dunia hanya merupakan mainan dan senda gurau.\u201d (QS. Al-An\u2019am: 32)<\/p>\n<p><\/p>\n<p>Ingatlah duhai sahabat, untuk apa kita diciptakan di dunia ini kalau bukan untuk<\/p>\n<p>membangun dan meningkatkan keimanan kepada Sang Pencipta guna menggapai<\/p>\n<p>kehidupan yang kekal bahagia, abadi selamanya. Bukan untuk menjatuhkan iman dan<\/p>\n<p>menghancurkan dunia dengan tingkah laku yang jelas-jelas dibenci oleh Dia sang pencipta.<\/p>\n<p><\/p>\n<p>\u201c\u2026 Dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang<\/p>\n<p>ditentukan.\u201d (QS. Al-Baqarah: 36)<\/p>\n<p><\/p>\n<p>Hanya sementara, hidup di dunia yang penuh pesona ini telah dibatasi dan telah ditentukan<\/p>\n<p>kapan kita akan pergi serta meninggalkan dunia. Tempat kita dilahirkan sebagai manusia,<\/p>\n<p>tempat dimana kita mengenal apa itu dunia, langit, bumi, juga pencipta seluruh alam.<\/p>\n<p><\/p>\n<p>\u201cAllah bertanya: \u201cBerapa tahunkah kamu tinggal di bumi?\u201d Mereka menjawab: \u201cKami tinggal<\/p>\n<p>(di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang<\/p>\n<p>menghitung.\u201d Allah berfirman: \u201cKamu tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu<\/p>\n<p>sesungguhnya mengetahui.\u201d (QS. Al-Mukminun: 112-114)<\/p>\n<p><\/p>\n<p>Oleh karena itu, apa yang bisa kita banggakan dan sombongkan? Ketika hidup di dunia ini<\/p>\n<p>tak beda dengan hanya sekedar numpang duduk di rumah orang. Ada satu cerita dari salah<\/p>\n<p>seorang anak dari pasien saya. Anak beliau ini masih kuliah dan single. Dia termasuk anak<\/p>\n<p>yang berakhlak baik dan kebanggan orang tua, tak pernah sekalipun ia mengalami sakit<\/p>\n<p>yang mengkhawatirkan. Suatu hari, dengan senyum indahnya ia berpamitan untuk pergi ke<\/p>\n<p>kampus dengan mengendarai sepeda motor. Dan di sore harinya, beliau pulang hanya<\/p>\n<p>tinggal sebuah nama tanpa nyawa.<\/p>\n<p><\/p>\n<p>Siapa yang menyangka, dunia bisa menghempaskan kita secepat itu tanpa satupun tanda<\/p>\n<p>yang dimengerti manusia. Itulah mengapa, kita di anjurkan untuk senantiasa mengingat<\/p>\n<p>bahwa dunia ini hanyalah sementara saja, kapanpun dan di manapun dunia akan<\/p>\n<p>menghempaskna kita dari perutnya. Mau tak mau dan siap tak siap, nyawa ini akan<\/p>\n<p>melayang dan raga ini akan berpisah dengan ruh yang selama ini temani perjalanan cerita<\/p>\n<p>dunia. Abaikan kesenangan dunia yang bersifat menipu, mengedepankan kemaksiatan dan<\/p>\n<p>melancarkan rayuan yang katanya beujung bahagia. Bahagia orang mukmin itu ketika ia<\/p>\n<p>mati dalam keadaan husnul khatimah, bukan berfoya-foya dengan dunia yang ia paham<\/p>\n<p>hanya bersifat sementara.<\/p>\n<p><\/p>\n<p>Jika diri kian menyadari akan mati yang datang tak pernah permisi, maka berhentilah<\/p>\n<p>untuk mencurahkan segala perhatian kepada duniawi dan cobalah untuk berbagi perhatian<\/p>\n<p>kepada akhirat. Alam kedua setelah dunia, kehidupan kedua setelah kematian dan awal<\/p>\n<p>dari sebuah kehidupan yang abadi, hingga alam tak lagi bernyawa.<\/p>\n<p><\/p>\n<p>Yuk, mari bersama, menyeimbangkan antara dunia dan akhirat. Dunia sementara dan<\/p>\n<p>akhirat selamanya, dunia sebagai jembatan untuk menggapai akhirat dan dunia satu-<\/p>\n<p>satunya obat penumbuh bahagia abadi. Maka ramulah sebaik-baiknya obat dunia, agar<\/p>\n<p>bahagia akhirat tumbuh dengan indahnya.<\/p>\n<p><\/p>\n<p>Islam secara gamblang menjelaskan kepada kita untuk jangan lupa bahwa setelah<\/p>\n<p>dunia masih ada akhirat yang menanti. Segeralah beribadah, karena mati datang<\/p>\n<p>tak pernah permisi. Bersama, kita mencoba untuk memperbaiki diri sembari<\/p>\n<p>berbagi.<\/p>\n<p><\/p>\n<p>Note : Penulis tak selalu seindah tulisannya. Namun, dari sebuah tulisan bisa merubah<\/p>\n<p>penulis menjadi lebih indah. Keep Istiqamah!<\/p>\n<p><\/p>\n<p>Lampung, Rabu, 1 Jumadilawal 1437 \/ 10 Februari 2016<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>KESENANGAN YANG MENIPU Oleh : Pipit Era Martina Alam dunia berarti alam syahadah, dan antonim dari dunia adalah alam akhirat [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":115,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"site-sidebar-layout":"default","site-content-layout":"","ast-site-content-layout":"default","site-content-style":"default","site-sidebar-style":"default","ast-global-header-display":"","ast-banner-title-visibility":"","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"","ast-breadcrumbs-content":"","ast-featured-img":"","footer-sml-layout":"","ast-disable-related-posts":"","theme-transparent-header-meta":"","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":"","astra-migrate-meta-layouts":"default","ast-page-background-enabled":"default","ast-page-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"ast-content-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"footnotes":""},"categories":[11],"tags":[],"class_list":["post-114","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-muhasabah"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/onislam.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/114","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/onislam.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/onislam.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/onislam.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/onislam.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=114"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/onislam.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/114\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":116,"href":"https:\/\/onislam.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/114\/revisions\/116"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/onislam.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/115"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/onislam.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=114"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/onislam.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=114"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/onislam.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=114"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}