{"id":338,"date":"2024-01-15T02:17:00","date_gmt":"2024-01-15T02:17:00","guid":{"rendered":"https:\/\/onislam.my.id\/index.php\/2024\/01\/15\/lumrahnya-phk-massal-dalam-sistem-kapitalis\/"},"modified":"2026-01-26T15:29:04","modified_gmt":"2026-01-26T15:29:04","slug":"lumrahnya-phk-massal-dalam-sistem-kapitalis","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/onislam.my.id\/index.php\/2024\/01\/15\/lumrahnya-phk-massal-dalam-sistem-kapitalis\/","title":{"rendered":"Lumrahnya PHK Massal dalam Sistem Kapitalis"},"content":{"rendered":"<p>&nbsp;<\/p>\n<div class=\"separator\" style=\"clear: both;text-align: center\"><a href=\"https:\/\/blogger.googleusercontent.com\/img\/b\/R29vZ2xl\/AVvXsEjwInBnk3G9xJjBIb9wv4vFF1T3V-B-KJc0jPz7D6WPiwiF5UYbSCYN5lOLqBdhgbHIpOLLHDW-ULXvQmsj28JfgDR9bX-UpzkxRdv3TkTJlNjlJKVRSGmmnM9E1rG8fL5ozccoqglTia6s1jCT_AiXZkgl7pYdBskkIHQKsGBm3xGD9wcXC4z4G5C-NOc\/s16000\/1115_031318_7c8b_inilah_com_a16bed8213.webp\" style=\"margin-left: 1em;margin-right: 1em\"><img decoding=\"async\" border=\"0\" data-original-height=\"1232\" data-original-width=\"1920\" src=\"https:\/\/blogger.googleusercontent.com\/img\/b\/R29vZ2xl\/AVvXsEjwInBnk3G9xJjBIb9wv4vFF1T3V-B-KJc0jPz7D6WPiwiF5UYbSCYN5lOLqBdhgbHIpOLLHDW-ULXvQmsj28JfgDR9bX-UpzkxRdv3TkTJlNjlJKVRSGmmnM9E1rG8fL5ozccoqglTia6s1jCT_AiXZkgl7pYdBskkIHQKsGBm3xGD9wcXC4z4G5C-NOc\/s16000\/1115_031318_7c8b_inilah_com_a16bed8213.webp\" \/><\/a><\/div>\n<p><\/p>\n<p>Lumrahnya&nbsp; PHK Massal dalam Sistem Kapitalis<br \/>\n<\/p>\n<p><b>Ely Nurcahyanik, S.Hut<\/b><br \/>\n (Pemerhati Sosial)<\/p>\n<p>Awal tahun 2024 ini kita akan disambut dengan badai gelombang PHK<br \/>\nmassal. Hal ini bisa jadi karena beberapa krisis seperti perang yang<br \/>\nmasih berlangsung hingga dampak perubahan iklim menjadi penyebabnya,<br \/>\nmembuat sebagian negara diprediksi jatuh dalam resesi. Perusahaan survei<br \/>\n Resume Builder&nbsp; memperkirakan PHK massal diperkirakan akan terjadi pada<br \/>\n tahun 2024. Ini didapatkan berdasarkan pengamatan lebih dari 900<br \/>\nperusahaan pada bulan ini.\n<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) terus berlanjut .<br \/>\nBerasal dari pabrik tekstil dan produk tekstil (TPT) serta industri<br \/>\npadat karya lainnya melakukan PHK, merumahkan karyawan, bahkan ada yang<br \/>\ntutup permanen. Mengutip catatan Konfederasi Serikat Pekerja Nusantara<br \/>\n(KSPN), sejak awal tahun 2023, setidaknya sekitar 7.200 buruh telah jadi<br \/>\n korban PHK. Di mana, 700-an orang diantaranya terkena PHK karena pabrik<br \/>\n tutup. Pabrik TPT itu berlokasi di di Jawa Barat.\n<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Alasannya, karena tak sanggup menghadapi serbuan produk<br \/>\nimpor, baik legal maupun ilegal, ke pasar dalam negeri. Hingga<br \/>\nmenyebabkan stok pabrik dalam negeri menumpuk lalu berujung pada<br \/>\npengurangan produksi hingga PHK. Penyebab lain, perlambatan ekonomi di<br \/>\nnegara-negara tujuan utama pasar ekspor Indonesia, seperti Eropa dan<br \/>\nAmerika Serikat (AS). sehingga memicu meningkatnya kekhawatiran akan<br \/>\nterjadinya resesi. Lebih dari separuh juga mengatakan berencana<br \/>\nmenerapkan pembekuan perekrutan pada tahun 2024. Perusahaan melakukan<br \/>\nPHK untuk mengantisipasi resesi. Sementara yang lainnya memberhentikan<br \/>\nkaryawan dan mengganti pekerja dengan kecerdasan buatan (AI).\n<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Semua itu adalah dampak sistem ekonomi kapitalis yang<br \/>\nditerapkan di dunia yang menggunakan paradigma yang kuat dialah yang<br \/>\nmenang. Juga egoisme pengusaha yang lebih megutamakan keselamatan<br \/>\nperusahaannya dan tidak peduli dengan nasib pekerja<br \/>\n. Fenomena PHK yang tidak ada hentinya dinegeri ini sebenarnya karena<br \/>\nlepasnya tangan tanggung jawab negara dalam menjamin lapangan pekerjaan<br \/>\nbagi rakyat. Di sisi lain Negara justru tidak berperan sebagai pelindung<br \/>\n rakyat. Pengelolaan SDA oleh asing juga mengurangi peluang terciptanya<br \/>\nlapangan pekerjaan bagi rakyat. Maraknya investasi asing membuat rakyat<br \/>\nhanya sebagai buruh.\n<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Di dalam negeri terdapat&nbsp; tujuh Badan Usaha Milik Negara<br \/>\n(BUMN) yang dinilai sudah tidak \u201csehat\u201d resmi dibubarkan oleh<br \/>\npemerintah. Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo mengatakan alasan<br \/>\npemerintah membubarkan ke tujuh perusahaan pelat merah tersebut karena<br \/>\nperkembangan bisnisnya tidak berjalan dengan baik. Lebih jauh, ia<br \/>\nmengatakan bahwa pada 2024 mendatang jumlah BUMN akan di bawah 40 dari<br \/>\n45 yang ada saat ini, dengan 12 klaster.\n<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Maka dari fenomena banyaknya rakyat yang di PHK, pemerintah<br \/>\n harus memikirkan nasib para PHK ini apakah mereka mendapatkan pesangon<br \/>\nkerja secara layak, memastikan semua pekerja mendapatkan hak mereka<br \/>\nsecara adil. Kini tingkat pengangguran semakin tinggi sehingga<br \/>\npemerintah harus punya solusi jitu dalam menangani ini tidak dibiarkan<br \/>\nbegitu saja karena akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi negara dan<br \/>\nkesejateraan rakyat akan terbengkalai jika tidak segera ditangani, akan<br \/>\nbanyak terjadi kelaparan, tindak kriminal dst, pemerintah harus laporkan<br \/>\n menyediakan lapangan pekerjaan bagi para rakyatnya. Nyatanya Negara<br \/>\nsaat ini hanya bertindak sebagai regulator yang menerahkan ketersediaan<br \/>\nlapangan kerja bagi rakyat kepada pihak swasta, padahal sampai kapanpun<br \/>\npihak swasta tidak akan mampu menjamin hal itu karena pihak swasta hanya<br \/>\n akan mengutamakan keuntungan dalam bisnisnya, jika menghentikan pekerja<br \/>\n jalan mereka dalam menyelematkan perusahaanya, ini akan terus di<br \/>\nlakukan dan ini akan terus menghantui para pekerja yang terbayang-bayang<br \/>\n PHK. <\/p>\n<p dir=\"ltr\">Ini semua akan berakhir pada tidak terpenuhinya kebutuhan rakyat.<br \/>\n<br \/>\nAkar permasalahan ini disebabkan sistem ekonomi kapitalisme yang masih<br \/>\nditerapkan pada semua lini, apalagi kebijakan perdagangan yang<br \/>\nmenimbulkan adanya impor yang deras dari berbagai jenis barang termasuk<br \/>\nbarang tekstil, maka produk industri dalam negeri harus bersaing ketat<br \/>\ndengan produk luar negeri karena proses impor dipermudah oleh pemerintah<br \/>\n dan tanpa hambatan, tidak berpihak pada negara pada pengusaha lokal<br \/>\nyang tidak cukup punya modal, padahal bakat rakyat di negeri luar biasa,<br \/>\n sehingga produk lokal tidak bisa bersaing dengan produk impor. Rapor<br \/>\nmerah akan terus terjadi selama sistem ekonomi kapitalisme digunakan,<br \/>\nkrisis ekonomi akan terus terjadi dan rakyat semakin sengsara.\n<\/p>\n<p>\nJelas kondisi ini berbeda jika dibandingkan dengan kondisi<br \/>\nyang diriyah di dalam negara Islam, Islam akan menjamin kesejahteraan<br \/>\nrakyat melalui berbagai mekanisme dalam bingkai sistem ekonomi Islam.<br \/>\nSalah satunya adalah menyediakan lapangan kerja dan kemampuan<br \/>\nmengantispasi kemajuan teknologi sehingga tetap tersedia lapangan kerja<br \/>\nbagi rakyat, akan adanya UU larangan praktik ribawi juga kebijakan yang<br \/>\nbrbasis syariah.&nbsp;<\/p>\n<p>Sebab dalam Islam laki-laki haram menganggur juga malas<br \/>\n sehingga negara Islam akan menjalankan strategi jitu dengan turun<br \/>\ntangan langsung memastikan semua, pengelolaan proyek yang bersifat<br \/>\nkepmilikan umum akan di tangani negara langsung yaitu SDA yang akan<br \/>\nmembutuhkan tenaga kerja dalam jumlah besar karena kepemilikan umum<br \/>\ntidak boleh dimiliki individu apalagi swasa, maka negara yang akan<br \/>\nmengelola dan menditribusikan hasilnya untuk rakyat, negara tidak akan<br \/>\nmudah mengeluarkan kebijakan impor apalagi akan bergantung pada negara<br \/>\nlain, sehingga mampu meminimalisir penurunan akibat PHK. <br \/>\nWallahu a&#8217;lam bish showab<br \/><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>&nbsp; Lumrahnya&nbsp; PHK Massal dalam Sistem Kapitalis Ely Nurcahyanik, S.Hut (Pemerhati Sosial) Awal tahun 2024 ini kita akan disambut dengan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"site-sidebar-layout":"default","site-content-layout":"","ast-site-content-layout":"default","site-content-style":"default","site-sidebar-style":"default","ast-global-header-display":"","ast-banner-title-visibility":"","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"","ast-breadcrumbs-content":"","ast-featured-img":"","footer-sml-layout":"","ast-disable-related-posts":"","theme-transparent-header-meta":"","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":"","astra-migrate-meta-layouts":"default","ast-page-background-enabled":"default","ast-page-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"ast-content-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"footnotes":""},"categories":[7],"tags":[],"class_list":["post-338","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-opini"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/onislam.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/338","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/onislam.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/onislam.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/onislam.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/onislam.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=338"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/onislam.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/338\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":339,"href":"https:\/\/onislam.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/338\/revisions\/339"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/onislam.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=338"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/onislam.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=338"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/onislam.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=338"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}