{"id":432,"date":"2023-07-20T04:42:00","date_gmt":"2023-07-20T04:42:00","guid":{"rendered":"https:\/\/onislam.my.id\/index.php\/2023\/07\/20\/menyikapi-pujian-sewajarnya\/"},"modified":"2026-01-26T15:29:51","modified_gmt":"2026-01-26T15:29:51","slug":"menyikapi-pujian-sewajarnya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/onislam.my.id\/index.php\/2023\/07\/20\/menyikapi-pujian-sewajarnya\/","title":{"rendered":"Menyikapi Pujian Sewajarnya"},"content":{"rendered":"<div class=\"separator\" style=\"clear: both;text-align: center\"><a href=\"http:\/\/onislam.my.id\/wp-content\/uploads\/2023\/07\/Thumbs-Up-640x380-1.jpg\" style=\"margin-left: 1em;margin-right: 1em\"><img decoding=\"async\" alt=\"Muhasabah\" border=\"0\" data-original-height=\"380\" data-original-width=\"640\" src=\"http:\/\/onislam.my.id\/wp-content\/uploads\/2023\/07\/Thumbs-Up-640x380-1.jpg\" title=\"Muhasabah\" \/><\/a><\/div>\n<p><\/p>\n<p><\/p>\n<p>Menyikapi Pujian Sewajarnya<\/p>\n<p>Oleh : Newisha Alifa<\/p>\n<p><\/p>\n<p>Memuji dan dipuji adalah bagian dari pernak-pernik kehidupan. Ketika kita merasa takjub<\/p>\n<p>dengan kelebihan atau suatu anugrah yang Allah berikan pada orang lain, sebagai manusia<\/p>\n<p>normal, sontak kita pun akan memujinya. \u201cWah \u2026 kamu hebat ya!\u201d atau, \u201cMasya Allah!<\/p>\n<p>Kamu memang bisa diandalkan!\u201d dan berbagai jenis pujian lainnya.<\/p>\n<p><\/p>\n<p>Orang yang anti sekali memuji orang lain, patut dipertanyakan tuh kondisi hatinya. Jangan-<\/p>\n<p>jangan perasaan congkak sudah terlanjur berkarat dalam hati, hingga sulit mengakui<\/p>\n<p>kelebihan atau kehebatan orang lain. Semoga kita tidak termasuk yang demikian.<\/p>\n<p><\/p>\n<p>Islam sebagai satu-satunya agama yang mengatur segala urusan pemeluknya dengan<\/p>\n<p>paripurna, tentunya juga menyoroti perihal yang satu ini.<\/p>\n<p><\/p>\n<p>Dari Abu Musa Al-Asy\u2019ari RA, dia berkata: Nabi Muhammad SAW mendengar seseorang<\/p>\n<p>memuji temannya secara berlebihan. maka beliau bersabda,<\/p>\n<p><\/p>\n<p>\u0644\u064e\u0642\u064e\u062f\u0652 \u0623\u064e\u0647\u0652\u0644\u064e\u0643\u0652\u062a\u064f\u0645\u0652 \u2013 \u0623\u064e\u0648\u0652 \u0642\u064e\u0637\u064e\u0639\u0652\u062a\u064f\u0645\u0652 \u0638\u064e\u0647\u0652\u0631\u064e \u2013 \u0627\u0644\u0631\u0651\u064e\u062c\u064f\u0644\u0650<\/p>\n<p>\u201cSungguh kamu telah mencelakakan \u2013 atau mematahkan punggung \u2013 laki-laki itu.\u201d (HR.<\/p>\n<p>Muslim No. 3001)<\/p>\n<p><\/p>\n<p>Dari Miqdad bin Al-Aswad RA, dia berkata,<\/p>\n<p>\u0623\u064e\u0645\u064e\u0631\u064e\u0646\u064e\u0627 \u0631\u0633\u0648\u0644\u064f \u0627\u0644\u0644\u0647\u0650 \u0635\u0644\u0649 \u0627\u0644\u0644\u0647 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0648\u0633\u0644\u0645 \u0623\u064e\u0646\u0652 \u0646\u064e\u062d\u0652\u062b\u064f\u0648\u064e \u0641\u0650\u064a \u0648\u064f\u062c\u064f\u0648\u0652\u0647\u0650 \u0627\u0644\u0652\u0645\u064e\u062f\u0651\u064e\u0627\u062d\u0650\u064a\u0652\u0646\u064e \u0627\u0644\u062a\u0651\u064f\u0631\u064e\u0627\u0628\u064e<\/p>\n<p>\u201cRasulullah SAW memerintahkan kami untuk menaburkan tanah ke wajah-wajah orang yang<\/p>\n<p>berlebihan dalam memuji.\u201d (HR. Muslim No. 3002)<\/p>\n<p><\/p>\n<p>Berdasarkan dua hadist di atas, tentu kita perlu menggarisbawahi kata berlebihan. Dan seperti<\/p>\n<p>yang kita ketahui bersama, bahwa \u2014hampir\u2014 segala sesuatu di dunia ini jika dilakukan<\/p>\n<p>secara berlebihan, yang ada justru menimbulkan sebuah keburukan. Itu pula yang terjadi<\/p>\n<p>ketika kita berlebihan dalam memuji seseorang.<\/p>\n<p><\/p>\n<p><\/p>\n<p>Di antara hikmah di balik larangan memuji orang lain secara berlebihan adalah:<\/p>\n<p><\/p>\n<p>1. Bisa menimbulkan perasaan ujub terhadap orang tersebut<\/p>\n<p><\/p>\n<p>Tidak sedikit orang yang tadinya biasa saja, bahkan cenderung rendah hati, karena<\/p>\n<p>terlalu sering mendapatkan pujian dari orang-orang sekitarnya, lama-kelamaan dia<\/p>\n<p>pun berubah congkak; mulai haus akan pujian, mulai gila hormat dan sebagainya.<\/p>\n<p>Ketika suatu saat dia merasa telah melakukan hal yang hebat dan orang lain<\/p>\n<p>menanggapinya biasa saja, minimal akan ada perasaan kecewa dalam dirinya.<\/p>\n<p>\u201cKenapa ya? Kok nggak ada yang memujiku?\u201d<\/p>\n<p><\/p>\n<p>2. Bisa membangkitkan perasaan iri dari orang lain yang tidak menyukai orang<\/p>\n<p>yang kita puji<\/p>\n<p><\/p>\n<p>Rasanya mustahil jika dalam hidup, kita ini nggak punya hater sama sekali. Setiap<\/p>\n<p>orang, nggak perlu jadi selebriti untuk memiliki haters. Bahkan sebaik-baiknya<\/p>\n<p>tauladan di muka bumi; Rasulullah SAW saja begitu banyak yang membenci, bahkan<\/p>\n<p>ingin membunuh beliau.<\/p>\n<p><\/p>\n<p>Tanpa disadari, pujian kita\u2014apalagi jika sudah berlebihan\u2014bisa membangkitkan<\/p>\n<p>perasaan iri dari si pendengki terhadap orang tersebut. Bahkan mungkin menambah<\/p>\n<p>kekesalan mereka yang berkabut hatinya untuk semakin kesal dan benci kepada orang<\/p>\n<p>yang kita puji.<\/p>\n<p><\/p>\n<p>Bagaimana jika kita dipuji orang lain?<\/p>\n<p>Di atas sudah dijelaskan, di antara hikmah larangan memuji orang lain secara<\/p>\n<p>berlebihan adalah dapat membuat orang yang dipuji menjadi ujub atau berbangga diri. Maka<\/p>\n<p>jika suatu saat pujian itu datang kepada kita, sikapilah dengan wajar dan mulailah dengan<\/p>\n<p>melakukan dua hal ini :<\/p>\n<p><\/p>\n<p>1. Ucapkan, \u201cAlhamdulillah\u201d<\/p>\n<p><\/p>\n<p>Karena toh sejatinya segala puji itu memang hanya untuk Allah. Adapun kelebihan,<\/p>\n<p>kebaikan dan kehebatan yang ada pada diri kita sekarang, semuanya juga terjadi atas<\/p>\n<p>izin Allah. Apa pun bentuknya; fisik yang rupawan, otak yang brilian, harta yang<\/p>\n<p>berlimpah, semuanya cuma titipan yang sewaktu-waktu jika mau diambil, yaa \u2026 kita<\/p>\n<p>nggak bisa apa-apa. Lantas sejatinya, apa yang mau kita banggakan?<\/p>\n<p><\/p>\n<p><\/p>\n<p>2. Perbanyak Istighfar dan Mengingat Aib Serta Kekurangan Diri<\/p>\n<p><\/p>\n<p>Adalah salah satu quote favorit yang belum saya ketahui\u2014dengan pasti\u2014siapa<\/p>\n<p>pencetusnya, \u201cKita dipandang baik, kadangkala bukanlah karena benar-benar baik.<\/p>\n<p>Tapi karena Allah menutup aib yang ada pada diri kita. Barangkali kalau aib kita<\/p>\n<p>dibuka dan didedahkan, tidak ada satu kebaikan apa pun pada diri kita di mata<\/p>\n<p>manusia.\u201d<\/p>\n<p><\/p>\n<p>Dengan mengingat kekurangan dan aib diri sendiri, setidaknya akan menekan<\/p>\n<p>perasaan ujub, bahkan takabur yang hendak tumbuh berkembang ketika orang lain<\/p>\n<p>sedang memuji kita.<\/p>\n<p><\/p>\n<p>Pujian jika diberikan dan diterima dengan sewajarnya, maka akan baik pula akibatnya.<\/p>\n<p>Karena tidak bisa dipungkiri, berawal dari pujian, bisa jadi pembangkit semangat orang lain<\/p>\n<p>untuk melakukan suatu kebaikan atau pencapaian yang lebih dalam hidup orang tersebut di<\/p>\n<p>ke depannya.<\/p>\n<p><\/p>\n<p>Terkadang, pujian adalah salah satu bentuk apresiasi terhadap hasil kerja keras seseorang.<\/p>\n<p>Misalnya, pujian orang tua terhadap pencapaian prestasi anaknya di sekolah atau pujian dari<\/p>\n<p>seorang atasan kepada anak buahnya yang bekerja dengan baik, tentunya akan men-charge<\/p>\n<p>semangat si anak atau si bawahan untuk bisa menghasilkan sesuatu yang lebih baik lagi di<\/p>\n<p>kemudian hari.<\/p>\n<p><\/p>\n<p>Ingat! Yang nggak boleh itu kalau kita sampai berlebihan! Jadi, memuji dan sikapilah pujian<\/p>\n<p>itu dengan sewajarnya saja, untuk menghindarkan diri dari berbagai penyakit hati yang<\/p>\n<p>sangat mungkin muncul karenanya.<\/p>\n<p><\/p>\n<p>Wallahu A\u2019lam bisshowab.<\/p>\n<p>Bekasi, 12 Ramadan 1437H<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Menyikapi Pujian Sewajarnya Oleh : Newisha Alifa Memuji dan dipuji adalah bagian dari pernak-pernik kehidupan. Ketika kita merasa takjub dengan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":433,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"site-sidebar-layout":"default","site-content-layout":"","ast-site-content-layout":"default","site-content-style":"default","site-sidebar-style":"default","ast-global-header-display":"","ast-banner-title-visibility":"","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"","ast-breadcrumbs-content":"","ast-featured-img":"","footer-sml-layout":"","ast-disable-related-posts":"","theme-transparent-header-meta":"","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":"","astra-migrate-meta-layouts":"default","ast-page-background-enabled":"default","ast-page-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"ast-content-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"footnotes":""},"categories":[11],"tags":[],"class_list":["post-432","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-muhasabah"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/onislam.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/432","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/onislam.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/onislam.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/onislam.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/onislam.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=432"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/onislam.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/432\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":434,"href":"https:\/\/onislam.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/432\/revisions\/434"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/onislam.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/433"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/onislam.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=432"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/onislam.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=432"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/onislam.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=432"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}