{"id":745,"date":"2023-07-17T23:19:00","date_gmt":"2023-07-17T23:19:00","guid":{"rendered":"https:\/\/onislam.my.id\/index.php\/2023\/07\/17\/kebahagiaan-dan-kesedihan-itu-ada-dalam-hati\/"},"modified":"2026-01-26T15:31:58","modified_gmt":"2026-01-26T15:31:58","slug":"kebahagiaan-dan-kesedihan-itu-ada-dalam-hati","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/onislam.my.id\/index.php\/2023\/07\/17\/kebahagiaan-dan-kesedihan-itu-ada-dalam-hati\/","title":{"rendered":"KEBAHAGIAAN DAN KESEDIHAN ITU ADA DALAM HATI"},"content":{"rendered":"<p>&nbsp;<\/p>\n<div class=\"separator\" style=\"clear: both;text-align: center\"><a href=\"http:\/\/onislam.my.id\/wp-content\/uploads\/2023\/07\/SAVE_20200627_111945.jpeg\" style=\"margin-left: 1em;margin-right: 1em\"><img decoding=\"async\" alt=\"TAZKIYATUN NAFS\" border=\"0\" data-original-height=\"768\" data-original-width=\"1024\" src=\"http:\/\/onislam.my.id\/wp-content\/uploads\/2023\/07\/SAVE_20200627_111945.jpeg\" title=\"TAZKIYATUN NAFS\" \/><\/a><\/div>\n<p><\/p>\n<p>KEBAHAGIAAN DAN KESEDIHAN ITU ADA DALAM HATI<\/p>\n<p>Oleh : Afdalil Zikri<\/p>\n<p><\/p>\n<p>Sering kita bertanya dalam hidup ini, dimanakah letak kebahagiaan dan kesengsaraan<\/p>\n<p>hidup? Sebagian orang akan menjawab bahwa kebahagiaan hidup itu terletak pada harta,<\/p>\n<p>anak-anak, pangkat, jabatan ataupun ketika mendapat pujian atas prestasi yang mereka raih.<\/p>\n<p>Sebenarnya letak kebahagiaan hidup itu ada dalam hati kita masing-masing. Tidak dipungkiri<\/p>\n<p>bahwa manusia hanya akan bisa merasakan bahwa hidupnya bahagia kalau dalam hatinya<\/p>\n<p>merasakan perasaan itu. Dan sebaliknya, akan merasakan sengsara kalau dalam hatinya<\/p>\n<p>terdapat perasaan sengsara tersebut. Semua isi dunia dengan segala macam problematikanya<\/p>\n<p>bukanlah sumber kebahagiaan atau kesengsaraan, tetapi tidak lebih dari faktor penyebab bagi<\/p>\n<p>timbulnya kedua hal tersebut.<\/p>\n<p><\/p>\n<p>Kita sering beranggapan bahwa kekayaan adalah sumber kebahagiaan. Anggapan ini<\/p>\n<p>tidak sepenuhnya benar dan juga tidak selalu salah. Banyak kasus ditemui dalam hidup ini<\/p>\n<p>tentang banyaknya orang kaya yang tidak bahagia dalam hidupnya. Mereka sibuk dengan<\/p>\n<p>harta yang dimiliki yang dengan harta tersebut mereka bisa stress, merasa tertekan dan susah<\/p>\n<p>mengendalikan harta tersebut. Namun tidak sedikit juga kita temui bahwa orang miskin juga<\/p>\n<p>tidak bahagia dan menderita karena kemiskinannya. Posisi tersebut sangat bertentangan<\/p>\n<p>dengan naluri manusia yang intinya manusia ingin sekali hidup bahagia dengan harta yang<\/p>\n<p>dimilikinya.<\/p>\n<p><\/p>\n<p>Posisi seperti hal di atas mengajarkan kepada kita bahwa kekayaan tidak menjamin<\/p>\n<p>hidup bahagia, namun bahagia atau tidaknya kita tergantung dari kita menyikapi harta<\/p>\n<p>tersebut. Dan penyikapan itu sangat ditentukan oleh hati karena hatilah yang sangat berperan<\/p>\n<p>dalam menyikapi hal tersebut.<\/p>\n<p><\/p>\n<p>Bahagia dan sengsara didominasi oleh peranan hati dalam menyikapi sesuatu yang<\/p>\n<p>terjadi. Sejauh mana kita bisa menyikapi hidup ini beserta segala permasalahannya dengan<\/p>\n<p>arif dan bijaksana, sejauh itu pula kebahagiaan dan kesengsaraan ada dalam diri. Di sinilah<\/p>\n<p>letaknya peranan kearifan hati. Namun yang jadi pertanyaannya adalah apakah manusia bisa<\/p>\n<p>menyikapi persoalan di dunia ini dengan kearifan hati?<\/p>\n<p><\/p>\n<p>Bentuk penerimaan manusia dalam menghadapi masalah berbeda-beda. Sebagian<\/p>\n<p>orang menganggap masalah yang kita punya itu ringan dan kita menganggap bahwa masalah<\/p>\n<p>orang lain itu sangat berat. Karena apa? Karena manusia mempunyai pandangan yang<\/p>\n<p>berbeda dalam menyikapi masalah. Jadi, hatilah yang berperan. Kunci kebahagiaan dan<\/p>\n<p>kesengsaraan adalah di dalam hati ini. Tak ada jalan lain yang harus kita tempuh selain<\/p>\n<p>melatih hati agar bisa berlaku arif dan bijaksana dalam menyikapi masalah yang ada.&nbsp;<\/p>\n<p><\/p>\n<p>Caranya bagaimana?<\/p>\n<p><\/p>\n<p>Setuju atau tidak setuju bahwa untuk melatih hati agar bisa berlaku arif dan bijaksana<\/p>\n<p>adalah dengan kembali pada agama. Mengapa? Agama mengajarkan kepada kita bahwa kita<\/p>\n<p>harus sabar dalam menerima musibah dan bersyukur dalam menerima nikmat. Agama juga<\/p>\n<p>mengajarkan bahwa kita harus qana\u2019ah dalam hidup, yaitu dengan menerima pemberian<\/p>\n<p>Allah dengan lapang dada dan tidak ada perasaan keluh kesah. Dan dalam berusaha kita harus<\/p>\n<p>optimis lalu bertawakkal kepada Allah.<\/p>\n<p><\/p>\n<p>Konsep agama jelas dalam menyikapi permasalahan hidup ini. Jelaslah bahwa siapa<\/p>\n<p>yang berpegang teguh dengan apa yang diajarkan agama, maka hidupnya akan bahagia.<\/p>\n<p>Sebaliknya, siapa yang tidak berpegang teguh kepada ajaran agama, hidupnya akan sengsara.<\/p>\n<p>Kunci meraih hidup bahagia itu tidak sulit dan tidak dirahasiakan oleh Allah SWT,<\/p>\n<p>bahkan secara terang-terangan Allah memberitahukan hal tersebut.&nbsp;<\/p>\n<p><\/p>\n<p>Pertanyaannya adalah,<\/p>\n<p>apakah dengan telah kita ketahui kunci kebahagiaan itu kita akan acuh tak acuh dengan<\/p>\n<p>semua ini? Ataukah kita akan berusaha membuka kunci kebahagiaan yang letaknya ada<\/p>\n<p>dalam diri kita yaitu hati? Hanya kita masing-masing yang bisa menjawabnya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>&nbsp; KEBAHAGIAAN DAN KESEDIHAN ITU ADA DALAM HATI Oleh : Afdalil Zikri Sering kita bertanya dalam hidup ini, dimanakah letak [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":746,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"site-sidebar-layout":"default","site-content-layout":"","ast-site-content-layout":"default","site-content-style":"default","site-sidebar-style":"default","ast-global-header-display":"","ast-banner-title-visibility":"","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"","ast-breadcrumbs-content":"","ast-featured-img":"","footer-sml-layout":"","ast-disable-related-posts":"","theme-transparent-header-meta":"","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":"","astra-migrate-meta-layouts":"default","ast-page-background-enabled":"default","ast-page-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"ast-content-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[],"class_list":["post-745","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-tazkiyatun-nafs"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/onislam.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/745","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/onislam.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/onislam.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/onislam.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/onislam.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=745"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/onislam.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/745\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":747,"href":"https:\/\/onislam.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/745\/revisions\/747"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/onislam.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/746"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/onislam.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=745"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/onislam.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=745"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/onislam.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=745"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}