{"id":758,"date":"2023-07-17T23:27:00","date_gmt":"2023-07-17T23:27:00","guid":{"rendered":"https:\/\/onislam.my.id\/index.php\/2023\/07\/17\/menguak-misteri-tembok-al-araf\/"},"modified":"2026-01-26T15:32:02","modified_gmt":"2026-01-26T15:32:02","slug":"menguak-misteri-tembok-al-araf","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/onislam.my.id\/index.php\/2023\/07\/17\/menguak-misteri-tembok-al-araf\/","title":{"rendered":"Menguak Misteri Tembok Al-A\u2019raf"},"content":{"rendered":"<div class=\"separator\" style=\"clear: both;text-align: center\"><a href=\"https:\/\/blogger.googleusercontent.com\/img\/b\/R29vZ2xl\/AVvXsEhbKSbqrHtVVI2rc_E161U-7wP7Io69aLaLjcOAOlrWMEI_G5l43O0ZRbVmNYzw5QlKXnnNDT9YBkE-8XjblSXlGgmCcjFKW9rMeM0UCAymAEwse2jloCfJ8_H7DB8JFjOWee3T8CcjyQZgs2rwrWVo8B-RPH889ne4fzCT1m4GbDmPflEXcy06v3WOqEwy\/s16000\/Ilustrasi-tempat-yang-diciptakan-Allah-diantara-surga-dan-neraka-Ist-P32d23c655ed0dd7d.md.webp\" style=\"margin-left: 1em;margin-right: 1em\"><img decoding=\"async\" alt=\"ARTIKEL\" border=\"0\" data-original-height=\"401\" data-original-width=\"600\" src=\"https:\/\/blogger.googleusercontent.com\/img\/b\/R29vZ2xl\/AVvXsEhbKSbqrHtVVI2rc_E161U-7wP7Io69aLaLjcOAOlrWMEI_G5l43O0ZRbVmNYzw5QlKXnnNDT9YBkE-8XjblSXlGgmCcjFKW9rMeM0UCAymAEwse2jloCfJ8_H7DB8JFjOWee3T8CcjyQZgs2rwrWVo8B-RPH889ne4fzCT1m4GbDmPflEXcy06v3WOqEwy\/s16000\/Ilustrasi-tempat-yang-diciptakan-Allah-diantara-surga-dan-neraka-Ist-P32d23c655ed0dd7d.md.webp\" title=\"ARTIKEL\" \/><\/a><\/div>\n<p><\/p>\n<p>Menguak Misteri Tembok Al-A\u2019raf<\/p>\n<p><\/p>\n<p>Penentuan nasib manusia untuk menjadi penghuni surga atau neraka bermula dari<\/p>\n<p>yaumul hisab; hari diperhitungkannya segala amal, dan yaumul mizan; hari<\/p>\n<p>ditimbangnya amal baik dan buruk manusia selama di dunia. Surga dan neraka akan<\/p>\n<p>ditentukan dari hasil timbangan tersebut. Al-mizan (timbangan) akan memberikan<\/p>\n<p>jawaban atas pertanyaan; apakah amalan seorang hamba yang lebih berat, amal<\/p>\n<p>kebaikan ataukah amal keburukan?<\/p>\n<p><\/p>\n<p>Ahlus Sunnah meyakini tentang ditegakkannya al-mizan dan dibukanya catatan-catatan<\/p>\n<p>amal. Menurut bahasa, mizan berarti alat yang digunakan untuk mengukur sesuatu<\/p>\n<p>berdasarkan berat dan ringan (neraca). Sedangkan menurut istilah, mizan adalah<\/p>\n<p>sesuatu yang Allah Azza wa Jalla letakkan pada hari Kiamat untuk menimbang amalan<\/p>\n<p>hamba-Nya, sebagaimana yang telah ditunjukkan oleh al-Qur`an, Sunnah, dan ijma\u2019<\/p>\n<p>salafush shalih. [lihat Syarah Lum\u2019atul I\u2019tiqad hal. 120]<\/p>\n<p><\/p>\n<p>\u201cBarangsiapa berat timbangan (kebaikan)-nya, maka mereka itulah orang-orang yang<\/p>\n<p>beruntung. Barangsiapa ringan timbangan (kebaikan)-nya, maka mereka itulah orang-<\/p>\n<p>orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka kekal di dalam neraka Jahannam.\u201d (QS. Al-<\/p>\n<p>Mukminun: 102-103)<\/p>\n<p><\/p>\n<p>Ternyata di sisi lain, ada pihak yang sedang harap-harap cemas, yakni mereka yang<\/p>\n<p>kelak akan menempati suatu tempat tinggi yang lokasinya berada di antara surga dan<\/p>\n<p>neraka. Ya, inilah tempat yang dimaksud dengan tembok al-A\u2019raf.<\/p>\n<p><\/p>\n<p>A\u2019raf adalah jama\u2019 dari urf yang secara bahasa berarti tempat yang tinggi. Allah SWT pun<\/p>\n<p>menempatkan nama Al A\u2019raf sebagai nama surat ketujuh dalam Al-Qur\u2019an. Namun, kali<\/p>\n<p>ini pembahasan akan mengerucut pada misteri tembok dan Ashhabul (penghuni) A\u2019raf.<\/p>\n<p>Al-A\u2019raf diterangkan langsung oleh Allah SWT, sebagaimana yang tertuang di dalam<\/p>\n<p>firman-Nya,<\/p>\n<p><\/p>\n<p>\u201cDan di antara keduanya (surga dan neraka) ada batas; dan di atas al-A\u2019raf itu ada<\/p>\n<p>orang-orang yang mengenal masing-masing dari dua golongan itu dengan tanda-tanda<\/p>\n<p>mereka. Dan mereka menyeru penduduk surga, \u201cSalaamun \u2018alaikum\u201d mereka belum lagi<\/p>\n<p>memasukinya, sedang mereka ingin segera (memasukinya). \u00d0an apabila pandangan<\/p>\n<p>mereka dialihkan ke arah penghuni neraka, mereka berkata: \u201cYa Tuhan kami, janganlah<\/p>\n<p>Engkau tempatkan kami bersama-sama orang-orang yang zalim itu.\u201d (QS. Al-A\u2019raf: 46-<\/p>\n<p>47)<\/p>\n<p><\/p>\n<p>Tembok al-A\u2019raf merupakan tembok tinggi, pembatas antara surga dan neraka. Surat<\/p>\n<p>dan ayat yang lain menyiratkan tentang tembok ini, tetapi dengan menggunakan kata<\/p>\n<p>dinding. Seperti di dalam firman-Nya, \u201c&#8230; Lalu diadakan di antara mereka dinding yang<\/p>\n<p>mempunyai pintu. Di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya dari situ ada<\/p>\n<p>siksa.\u201d(QS. Al-Hadid: 13)<\/p>\n<p><\/p>\n<p>Adapun penghuni al A\u2019raf disebut ashhabul A\u2019raf. Siapakah gerangan? Yakni mereka<\/p>\n<p>yang timbangan amal baik dan amal buruknya seimbang. Seperti yang dikatakan Ibnu<\/p>\n<p>Mas\u2019ud, \u201cBarang siapa yang kebaikan dan keburukannya seimbang maka ia adalah<\/p>\n<p>ashhabul A\u2019raf.\u201d<\/p>\n<p><\/p>\n<p>Berlaku untuk siapa saja? Teruntuk seluruh umat manusia. Sebagaimana yang<\/p>\n<p>disebutkan Ibnu Jauzi di dalam tafsirnya, \u201cJumhur Ulama telah sepakat bahwa ashhabul<\/p>\n<p>A\u2019raf adalah dari Bani Adam semuanya, bukan khusus bagi Umat Nabi Muhammad SAW<\/p>\n<p>saja.\u201d<\/p>\n<p><\/p>\n<p>Para Ashhabul A\u2019raf pun mengenali ciri-ciri penghuni surga dan neraka, \u201cpada hari yang<\/p>\n<p>di waktu itu ada muka yang putih berseri, dan ada pula muka yang hitam muram&#8230;\u201d (QS.<\/p>\n<p>Ali Imran: 106)<\/p>\n<p><\/p>\n<p>Ya! Untuk sementara waktu nasib mereka terkatung-katung, tidak tentu arah. Mereka<\/p>\n<p>hanya bisa memandangi kenikmatan surga dan para penghuni di dalamnya. Begitupun<\/p>\n<p>saat pandangan mereka dialihkan ke neraka, hanya doa yang bisa terpanjat agar<\/p>\n<p>terhindar dari siksa pedihnya.<\/p>\n<p><\/p>\n<p>Bagaimana sesungguhnya nasib ashhabul A\u2019raf kelak? Pada akhirnya mereka masuk<\/p>\n<p>surga, \u201c&#8230;Masuklah ke dalam surga, tidak ada kekhawatiran terhadapmu dan tidak (pula)<\/p>\n<p>kamu bersedih hati.\u201d(QS. Al-A\u2019raf: 49) Dengan cara apa? Yaitu setelah mendapat<\/p>\n<p>syafa\u2019at dari Nabi.<\/p>\n<p><\/p>\n<p>Imam Ath-Thabarani meriwayatkan, bahwa Ibnu Abbas ra. berkata, \u201cOrang-orang yang<\/p>\n<p>berlomba-lomba dalam kebajikan memasuki surga dengan tanpa hisab, orang yang<\/p>\n<p>pertengahan memasuki surga dengan rahmat Allah dan juga orang yang menzalimi diri<\/p>\n<p>mereka sendiri, adapun ashhabul A\u2019raf mereka masuk surga dengan syafa\u2019at dari Nabi<\/p>\n<p>Muhammad Shallallahu \u2018alaihi wasallam\u201d.<\/p>\n<p><\/p>\n<p>Sekarang, adakah perbuatan yang bisa menambah timbangan amal di akhirat kelak?<\/p>\n<p>Jawabnya ada, di antaranya seperti yang dijelaskan di beberapa hadist Abu Hurairah ra,<\/p>\n<p>ia berkata, \u201cRasulullah SAW bersabda, \u201cDua kalimat yang ringan untuk diucapkan, tetapi<\/p>\n<p>berat dalam timbangan dan disukai oleh Allah Ar-Rahman (Yang Maha Pengasih), yaitu:<\/p>\n<p>\u2018Subhaanallahi wa bihamdihi\u2019 (Maha Suci Allah Tuhan dengan segala pujian-Nya) dan<\/p>\n<p>\u2018Subhaanallahil \u2018azhiim\u2019 (Maha Suci Allah Tuhan Yang Maha Agung).\u201d (HR. Bukhari No.<\/p>\n<p>6682 dan Muslim No. 2694)<\/p>\n<p><\/p>\n<p>Dari Abu Malik al-Harits bin \u2018Ashim al-Asy\u2019ari ra, ia berkata, \u201cRasulullah SAW bersabda,<\/p>\n<p>\u201cBersuci adalah sebagian dari iman, alhamdulillah (segala puji bagi Allah) memenuhi<\/p>\n<p>timbangan. Subhanallah walhamdulillah, keduanya memenuhi antara langit dan bumi;<\/p>\n<p>shalat adalah cahaya; sedekah adalah petunjuk; sabar adalah sinar, dan Al-Qur`an adalah<\/p>\n<p>hujjah bagimu. Setiap manusia melakukan perbuatan: ada yang menjual dirinya<\/p>\n<p>kemudian memerdekakannya atau membinasakannya,\u201d (HR. Muslim No. 223)<\/p>\n<p><\/p>\n<p>Disebutkan juga di dalam hadits riwayat Muslim, an-Nasa`i, dan Ibnu Majah, bahwa:,<\/p>\n<p>\u201cTasbih dan takbir memenuhi langit dan bumi.\u201d Ditegaskan pula dalam hadits Ali bin Abi<\/p>\n<p>Thalib ra, Abu Hurairah ra, Abdullah bin \u2018Amr ra, dan seorang dari Bani Sulaim bahwa<\/p>\n<p>\u201dTasbih adalah separuh timbangan dan alhamdulillah memenuhi timbangan.\u201d<\/p>\n<p><\/p>\n<p>Berkaca dari hadits-hadits di atas, kalimat dzikir seperti subhanallah, alhamdulillah, laa<\/p>\n<p>ilaaha illallah dan allahu akbar ternyata akan menambah juga timbangan kebaikan.<\/p>\n<p>Dzikir-dzikir tersebut merupakan dzikir mutlak, artinya tidak ditentukan oleh syara\u2019 (Al<\/p>\n<p>Qur\u2019an dan As Sunnah) kapan waktunya dibaca, sehingga siapapun boleh membaca<\/p>\n<p>dzikir tersebut setiap waktu. Berbeda dengan dzikir muqayyad, yaitu jenis dzikir yang<\/p>\n<p>sudah ditentukan oleh syara\u2019 kapan waktu dibacanya, seperti dzikir sesudah shalat,<\/p>\n<p>dzikir masuk dan keluar masjid, dzikir memakai pakaian dan melepasnya, dan dzikir-<\/p>\n<p>dzikir tertentu yang waktu dibacanya sudah ditetapkan.<\/p>\n<p><\/p>\n<p>\u201cHai orang-orang yang beriman! Berdzikirlah (mengingat) kepada Allah dengan dzikir<\/p>\n<p>yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang.\u201d<\/p>\n<p>(QS. Al-Ahzab: 41-42)<\/p>\n<p><\/p>\n<p>Semoga timbangan kita lebih berat kepada kebaikan, sehingga bisa terhindar dari<\/p>\n<p>tembok Al-A\u2019raf dan bersegera dalam mendapatkan kenikmatan surga. Salah satu<\/p>\n<p>caranya dengan mendawamkan amalan yang dianggap ringan, namun dapat<\/p>\n<p>memperberat timbangan kebaikan kelak di yaumil mizan. Diantaranya, dengan<\/p>\n<p>senantiasa melantunkan dzikir tasbih, tahmid, tahlil dan takbir dalam setiap keadaan.<\/p>\n<p>Aamiin<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Menguak Misteri Tembok Al-A\u2019raf Penentuan nasib manusia untuk menjadi penghuni surga atau neraka bermula dari yaumul hisab; hari diperhitungkannya segala [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":759,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"site-sidebar-layout":"default","site-content-layout":"","ast-site-content-layout":"default","site-content-style":"default","site-sidebar-style":"default","ast-global-header-display":"","ast-banner-title-visibility":"","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"","ast-breadcrumbs-content":"","ast-featured-img":"","footer-sml-layout":"","ast-disable-related-posts":"","theme-transparent-header-meta":"","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":"","astra-migrate-meta-layouts":"default","ast-page-background-enabled":"default","ast-page-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"ast-content-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-758","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/onislam.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/758","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/onislam.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/onislam.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/onislam.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/onislam.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=758"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/onislam.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/758\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":760,"href":"https:\/\/onislam.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/758\/revisions\/760"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/onislam.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/759"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/onislam.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=758"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/onislam.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=758"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/onislam.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=758"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}