{"id":894,"date":"2026-01-25T12:52:07","date_gmt":"2026-01-25T12:52:07","guid":{"rendered":"https:\/\/onislam.my.id\/?p=894"},"modified":"2026-01-31T02:04:14","modified_gmt":"2026-01-31T02:04:14","slug":"checklist-sunnah-dan-wajib-beda-edukasi-biar-ibadah-lebih-konsisten","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/onislam.my.id\/index.php\/2026\/01\/25\/checklist-sunnah-dan-wajib-beda-edukasi-biar-ibadah-lebih-konsisten\/","title":{"rendered":"Checklist Sunnah Dan Wajib Beda (Edukasi) Biar Ibadah Lebih Konsisten"},"content":{"rendered":"\n<p>Pernahkah Anda merasa semangat ibadah itu naik turun seperti <em>roller coaster<\/em>? Kadang sangat rajin puasa Senin-Kamis dan shalat Dhuha, tetapi di waktu lain justru sering terlambat shalat wajibnya. Fenomena ini sangat umum, dan sering kali akarnya adalah kurangnya pemahaman yang jelas tentang prioritas dalam beribadah. Di sinilah pentingnya memiliki <strong>Checklist Sunnah Dan Wajib Beda (Edukasi) Biar Ibadah Lebih Konsisten<\/strong>.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"1024\" src=\"https:\/\/onislam.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/image-49.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-896\" srcset=\"https:\/\/onislam.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/image-49.png 1024w, https:\/\/onislam.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/image-49-300x300.png 300w, https:\/\/onislam.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/image-49-150x150.png 150w, https:\/\/onislam.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/image-49-768x768.png 768w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p>Dulu, saya (penulis) juga mengalami hal yang sama. Saya sangat bangga bisa shalat malam <em>full<\/em> sebulan, tetapi saat bangun siang, shalat Subuh malah nyaris habis waktu. Rasanya ada yang salah dengan skala prioritas ini. Setelah berkonsultasi dengan guru agama, saya baru sadar, ibadah itu bukan tentang kuantitas amalan <em>Sunnah<\/em>, melainkan tentang kualitas dan <strong>konsistensi<\/strong> menjalankan yang <em>Wajib<\/em>. Ibarat membangun rumah, kita harus memastikan tiang utamanya berdiri kokoh sebelum memikirkan dekorasi atap. Inilah yang membuat saya tergerak untuk menyusun <strong>Checklist Sunnah Dan Wajib Beda (Edukasi) Biar Ibadah Lebih Konsisten<\/strong> ini, yang bertujuan membantu Anda fokus pada fondasi yang tepat.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Checklist Sunnah Dan Wajib Beda (Edukasi) Biar Ibadah Lebih Konsisten<\/strong> pada dasarnya adalah panduan untuk memetakan amalan mana yang berstatus wajib (fardhu) yang harus diutamakan, dan mana yang berstatus sunnah (anjuran) yang berfungsi sebagai penyempurna. Memahami perbedaan ini akan menciptakan struktur ibadah yang kuat, sehingga konsistensi harian Anda pun akan jauh lebih terjaga. Fokuskan energi spiritual Anda pada amalan wajib, lalu gunakan amalan sunnah sebagai &#8220;bonus&#8221; yang menambal kekurangan.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Mengapa Harus Ada &#8216;Checklist Sunnah Dan Wajib Beda (Edukasi) Biar Ibadah Lebih Konsisten&#8217;?<\/h2>\n\n\n\n<p>Kebanyakan dari kita terlalu mudah tergoda dengan amalan sunnah yang terlihat &#8220;keren&#8221; atau lebih bernilai pahala tinggi, padahal amalan wajib kita masih bolong-bolong. Inilah alasan mendasar mengapa sebuah <strong>Checklist Sunnah Dan Wajib Beda (Edukasi) Biar Ibadah Lebih Konsisten<\/strong> itu sangat krusial. Jika Anda ingin ibadah Anda lebih konsisten dan benar di mata agama, Anda perlu tahu mana yang <strong>tidak boleh ditinggalkan<\/strong> dan mana yang <strong>dianjurkan untuk dikerjakan<\/strong>.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Dasar Memprioritaskan Ibadah Wajib<\/h3>\n\n\n\n<p>Secara konsep keagamaan, ibadah <em>wajib<\/em> memiliki posisi yang jauh lebih tinggi dan fundamental dibandingkan dengan ibadah <em>sunnah<\/em>. Amalan <em>wajib<\/em> adalah perintah langsung yang bila ditinggalkan akan mendatangkan dosa, dan jika dikerjakan akan diganjar pahala besar. Sementara itu, amalan <em>sunnah<\/em> adalah anjuran yang bila dikerjakan mendapat pahala, dan jika ditinggalkan tidak berdosa.<\/p>\n\n\n\n<p>Analoginya sangat sederhana, seperti pekerjaan kantor Anda. Tugas utama (wajib) Anda adalah menyelesaikan laporan bulanan. Tugas tambahan (sunnah) Anda mungkin adalah merapikan meja kerja atau membantu rekan di luar deskripsi pekerjaan Anda. Jika Anda menghabiskan waktu merapikan meja (sunnah) tetapi laporan bulanan (wajib) tidak selesai, maka Anda pasti akan mendapatkan sanksi atau penilaian buruk.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam konteks spiritual, prioritas ini bahkan lebih ditekankan. Amalan <em>wajib<\/em> adalah bekal utama Anda untuk mencapai ridha, dan amalan <em>sunnah<\/em> berfungsi sebagai penambal jika ada kekurangan dalam amalan wajib Anda. Oleh karena itu, langkah pertama menuju ibadah yang lebih konsisten adalah memastikan daftar amalan <em>wajib<\/em> Anda <em>all clear<\/em>. Tanpa panduan seperti <strong>Checklist Sunnah Dan Wajib Beda (Edukasi) Biar Ibadah Lebih Konsisten<\/strong>, kita akan terus terjebak dalam siklus mengabaikan yang fundamental demi mengejar yang opsional.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Daftar Prioritas: Checklist Sunnah Dan Wajib Beda (Edukasi) Biar Ibadah Lebih Konsisten<\/h2>\n\n\n\n<p>Membuat <strong>Checklist Sunnah Dan Wajib Beda (Edukasi) Biar Ibadah Lebih Konsisten<\/strong> adalah cara paling praktis untuk memvisualisasikan prioritas Anda. Dengan memisahkannya, Anda tahu persis di mana energi utama Anda harus dialokasikan setiap harinya.<\/p>\n\n\n\n<p>Berikut adalah pemisahan contoh ibadah sehari-hari dan mingguan yang paling sering kita temui:<\/p>\n\n\n\n<p>| Kategori Ibadah | Amalan Wajib (Fardhu) | Amalan Sunnah (Dianjurkan) |<br>|&#8212;|&#8212;|&#8212;|<br>| <strong>Shalat Harian<\/strong> | Shalat lima waktu (Subuh, Dzuhur, Ashar, Maghrib, Isya) | Shalat Rawatib (sebelum\/sesudah shalat wajib), Shalat Dhuha, Shalat Tahajjud |<br>| <strong>Puasa<\/strong> | Puasa Ramadhan | Puasa Senin-Kamis, Puasa Ayyamul Bidh (pertengahan bulan), Puasa Syawal |<br>| <strong>Zakat\/Sedekah<\/strong> | Zakat Fitrah (setahun sekali), Zakat Maal (jika mencapai nisab) | Sedekah harian, Infaq, Wakaf, Donasi kemanusiaan |<br>| <strong>Bacaan Al-Qur&#8217;an<\/strong> | Belajar membaca Al-Fatihah dengan benar (termasuk rukun shalat) | Membaca Al-Qur&#8217;an secara rutin (wirid), Membaca Surah Al-Kahfi di hari Jumat |<br>| <strong>Kebersihan Diri<\/strong> | Mandi wajib (junub) | Mandi sunnah Jumat, Menyikat gigi (bersiwak) sebelum shalat, Memotong kuku |<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Penting:<\/strong> Perbedaan utama terletak pada <strong>konsekuensi hukum<\/strong>. Amalan wajib yang sengaja ditinggalkan akan berdosa, sementara amalan sunnah yang ditinggalkan tidak berdosa, melainkan kehilangan kesempatan mendapatkan pahala tambahan. Oleh karena itu, untuk mencapai <strong>Checklist Sunnah Dan Wajib Beda (Edukasi) Biar Ibadah Lebih Konsisten<\/strong>, fokus Anda harus 100% pada kolom <em>Wajib<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Studi Kasus Praktis: Lima Waktu vs. Rawatib<\/h3>\n\n\n\n<p>Mari kita ambil studi kasus paling umum: Shalat. Shalat lima waktu adalah tiang agama dan amalan <em>wajib<\/em> yang pertama kali akan dihisab. Sementara Shalat Rawatib (shalat sunnah yang mengiringi shalat wajib) adalah <em>sunnah<\/em> yang sangat dianjurkan.<\/p>\n\n\n\n<p>Namun, beberapa Muslim justru lebih bersemangat mengejar Rawatib-nya, tetapi sering menunda atau bahkan meninggalkan salah satu shalat wajibnya. Hal ini jelas membalik prioritas dan tidak akan menghasilkan konsistensi spiritual yang sehat. Data mengenai konsistensi shalat di Indonesia pun cukup mengejutkan. Survei Indonesia Moslem Report 2019 menunjukkan bahwa hanya 38,9% umat Muslim di Indonesia yang rutin menjalankan shalat lima waktu setiap hari. Artinya, lebih dari 60% populasi masih bergulat dengan konsistensi di tingkat <em>wajib<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p>Angka ini memperkuat mengapa kita memerlukan <strong>Checklist Sunnah Dan Wajib Beda (Edukasi) Biar Ibadah Lebih Konsisten<\/strong>. Fokus pada 38,9% (atau lebih) yang rutin menjalankan wajib lima waktu, lalu pelan-pelan tambahkan Rawatib sebagai pelengkap. Jika amalan <em>wajib<\/em> Anda sudah kokoh, Rawatib akan menjadi penyempurna yang menambal celah-celah kekurangan dalam shalat <em>wajib<\/em> Anda.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"1024\" src=\"https:\/\/onislam.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/image-48.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-895\" srcset=\"https:\/\/onislam.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/image-48.png 1024w, https:\/\/onislam.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/image-48-300x300.png 300w, https:\/\/onislam.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/image-48-150x150.png 150w, https:\/\/onislam.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/image-48-768x768.png 768w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Strategi Jangka Panjang Menjaga Konsistensi Ibadah<\/h2>\n\n\n\n<p>Memiliki <strong>Checklist Sunnah Dan Wajib Beda (Edukasi) Biar Ibadah Lebih Konsisten<\/strong> saja tidak cukup. Anda butuh strategi jangka panjang untuk memastikan bahwa komitmen ini tidak hanya hangat di awal, tetapi terus berlanjut. Kunci dari konsistensi adalah membangun kebiasaan (habits) yang sulit dipatahkan, dimulai dari yang paling fundamental.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Menjadikan Wajib sebagai &#8216;Tiang Utama&#8217;<\/h3>\n\n\n\n<p>Bayangkan tiang utama sebuah jembatan. Jika tiang tersebut roboh, seluruh struktur jembatan akan ikut runtuh. Amalan <em>wajib<\/em> adalah tiang itu. Strategi jangka panjang harus berpusat pada penguatan tiang-tiang tersebut.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Fokuskan pada:<\/strong><\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Tepat Waktu:<\/strong> Berusaha keras menunaikan shalat wajib tepat waktu (di awal waktu), tidak lagi menundanya hingga akhir waktu. Ini adalah latihan disiplin terbaik yang berdampak pada seluruh aspek kehidupan.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Kualitas (Khushu&#8217;):<\/strong> Setelah tepat waktu, tingkatkan kualitas <em>wajib<\/em> Anda. Pelajari makna bacaan shalat, perbaiki gerakan, dan coba hadirkan hati. Kualitas di sini jauh lebih berharga daripada tergesa-gesa mengerjakan shalat wajib hanya demi mengejar shalat sunnah.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Prioritas:<\/strong> Dalam kondisi sibuk, selalu tanyakan, &#8220;Apakah ibadah wajib saya sudah selesai?&#8221; Jika belum, tunda semua aktivitas <em>sunnah<\/em> atau non-wajib lainnya. Pendekatan <strong>Checklist Sunnah Dan Wajib Beda (Edukasi) Biar Ibadah Lebih Konsisten<\/strong> ini akan membebaskan Anda dari rasa bersalah yang tidak perlu.<\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Sunnah sebagai &#8216;Penyempurna&#8217; dan &#8216;Pemanis&#8217;<\/h3>\n\n\n\n<p>Setelah tiang utama berdiri kokoh, barulah kita menambahkan &#8216;dekorasi&#8217; dan &#8216;perisai&#8217; yang memperindah dan melindungi. Amalan <em>sunnah<\/em> bukanlah tujuan utama, melainkan alat untuk mencapai kesempurnaan dan meningkatkan derajat spiritual Anda di hadapan Sang Pencipta.<\/p>\n\n\n\n<p><em>Sunnah<\/em> memiliki peran ganda:<\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Penyempurna:<\/strong> Seperti yang disebutkan di atas, ibadah <em>sunnah<\/em> (terutama <em>Rawatib<\/em>) dapat menambal kekurangan (ketidak-khusyu&#8217;an) yang terjadi dalam ibadah <em>wajib<\/em>.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Pemanis Kehidupan:<\/strong> Amalan <em>sunnah<\/em> seperti shalat Dhuha, puasa Senin-Kamis, atau membaca Al-Qur&#8217;an secara rutin, dapat mendatangkan ketenangan hati, rezeki, dan berkah dalam kehidupan sehari-hari, menjadikannya &#8216;pemanis&#8217; yang membuat perjalanan spiritual Anda terasa lebih nikmat.<\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<p>Ketika Anda telah menguasai dan mengamalkan <strong>Checklist Sunnah Dan Wajib Beda (Edukasi) Biar Ibadah Lebih Konsisten<\/strong> ini, Anda akan merasa lebih tenang. Anda tidak lagi cemas karena merasa &#8220;kalah&#8221; dari orang lain dalam hal banyaknya amalan <em>sunnah<\/em>, sebab Anda tahu bahwa fondasi <em>wajib<\/em> Anda jauh lebih penting dan telah Anda tunaikan dengan baik. Inilah resep sejati untuk ibadah yang terstruktur dan konsisten, membawa berkah yang lebih besar dan keberlanjutan spiritual yang stabil.<\/p>\n\n\n\n<p>Kesimpulannya, perjalanan menuju ibadah yang lebih konsisten dimulai dari pemahaman yang benar. Jadikan <strong>Checklist Sunnah Dan Wajib Beda (Edukasi) Biar Ibadah Lebih Konsisten<\/strong> ini sebagai panduan utama Anda. Prioritaskan yang wajib, kuatkan fondasinya, dan gunakan yang sunnah sebagai penambah keindahan dan kesempurnaan. Dengan begitu, semangat ibadah Anda tidak akan mudah goyah oleh fluktuasi kehidupan.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8212;<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan)<\/h2>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Apa konsekuensi jika saya meninggalkan ibadah wajib dan hanya fokus pada ibadah sunnah?<\/h3>\n\n\n\n<p>Ibadah <em>wajib<\/em> yang ditinggalkan, meskipun Anda sudah mengerjakan banyak ibadah <em>sunnah<\/em>, akan tetap mendatangkan dosa. Ibadah <em>sunnah<\/em> tidak dapat menggantikan kewajiban yang telah ditetapkan, meskipun amalan <em>sunnah<\/em> dapat menambal kekurangan pada amalan <em>wajib<\/em> yang telah dikerjakan. Oleh karena itu, penting untuk memegang teguh <strong>Checklist Sunnah Dan Wajib Beda (Edukasi) Biar Ibadah Lebih Konsisten<\/strong> dengan mengutamakan yang wajib.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Bagaimana cara memulai ibadah yang lebih konsisten jika saya sering bolong-bolong?<\/h3>\n\n\n\n<p>Mulailah dengan hal yang paling wajib dan paling mudah untuk dikerjakan secara rutin (misalnya, shalat wajib di awal waktu). Fokuskan energi hanya pada lima ibadah <em>wajib<\/em> harian selama 40 hari berturut-turut. Setelah konsistensi ibadah <em>wajib<\/em> tercapai, barulah perlahan-lahan tambahkan satu amalan <em>sunnah<\/em> yang ringan. Metode ini sangat efektif, selaras dengan tujuan <strong>Checklist Sunnah Dan Wajib Beda (Edukasi) Biar Ibadah Lebih Konsisten<\/strong>.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Apakah puasa Senin-Kamis lebih utama daripada shalat Tahajjud?<\/h3>\n\n\n\n<p>Keduanya adalah ibadah <em>sunnah<\/em>. Mana yang lebih utama bisa berbeda tergantung kondisi seseorang dan tingkatan ibadah <em>wajib<\/em>-nya. Namun, jika dilihat dari sisi konsistensi, para ulama menyarankan untuk memilih <em>sunnah<\/em> yang lebih bisa dijaga keberlangsungannya (kontinu). Secara umum, mengutamakan amalan <em>wajib<\/em> seperti shalat lima waktu lebih penting daripada keduanya. Jika Anda ingin ibadah lebih konsisten, fokuslah pada pemenuhan <strong>Checklist Sunnah Dan Wajib Beda (Edukasi) Biar Ibadah Lebih Konsisten<\/strong>.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Apakah ada hadits yang mendukung pentingnya mendahulukan yang wajib?<\/h3>\n\n\n\n<p>Ya, salah satunya adalah Hadits Qudsi yang menyebutkan, &#8220;Tidaklah seorang hamba mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada yang Aku wajibkan atasnya\u2026&#8221; Hadits ini secara eksplisit menegaskan bahwa amalan <em>wajib<\/em> adalah jalan utama dan yang paling dicintai untuk mendekatkan diri kepada-Nya, memvalidasi prinsip utama dari <strong>Checklist Sunnah Dan Wajib Beda (Edukasi) Biar Ibadah Lebih Konsisten<\/strong> ini.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8212;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pernahkah Anda merasa semangat ibadah itu naik turun seperti roller coaster? Kadang sangat rajin puasa Senin-Kamis dan shalat Dhuha, tetapi [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":896,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"site-sidebar-layout":"default","site-content-layout":"","ast-site-content-layout":"default","site-content-style":"default","site-sidebar-style":"default","ast-global-header-display":"","ast-banner-title-visibility":"","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"","ast-breadcrumbs-content":"","ast-featured-img":"","footer-sml-layout":"","ast-disable-related-posts":"","theme-transparent-header-meta":"","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":"","astra-migrate-meta-layouts":"default","ast-page-background-enabled":"default","ast-page-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"ast-content-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-894","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/onislam.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/894","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/onislam.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/onislam.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/onislam.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/onislam.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=894"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/onislam.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/894\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":897,"href":"https:\/\/onislam.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/894\/revisions\/897"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/onislam.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/896"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/onislam.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=894"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/onislam.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=894"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/onislam.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=894"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}