{"id":930,"date":"2026-02-02T08:24:00","date_gmt":"2026-02-02T08:24:00","guid":{"rendered":"https:\/\/onislam.my.id\/?p=930"},"modified":"2026-02-02T16:27:11","modified_gmt":"2026-02-02T16:27:11","slug":"kesalahan-umum-saat-riya-dan-ujub-edukasi-dan-cara-menghindarinya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/onislam.my.id\/index.php\/2026\/02\/02\/kesalahan-umum-saat-riya-dan-ujub-edukasi-dan-cara-menghindarinya\/","title":{"rendered":"Kesalahan Umum Saat Riya Dan Ujub (Edukasi) dan Cara Menghindarinya"},"content":{"rendered":"\n<p>Setiap orang yang beramal baik pasti mendambakan ganjaran yang tulus dari-Nya, bukan pujian dari sesama manusia. Namun, perjalanan menjaga hati agar tetap lurus tidak pernah mudah. Kita semua adalah manusia biasa yang memiliki celah untuk tergelincir dalam perangkap halus seperti <em>riya&#8217;<\/em> (memamerkan amal) dan <em>ujub<\/em> (mengagumi diri sendiri). Memahami <strong>Kesalahan Umum Saat Riya Dan Ujub (Edukasi) dan Cara Menghindarinya<\/strong> sangatlah penting, sebab kedua sifat ini mampu menghapus nilai dari amal yang sudah kita kerjakan.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"1024\" src=\"https:\/\/onislam.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/image-2.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-931\" srcset=\"https:\/\/onislam.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/image-2.png 1024w, https:\/\/onislam.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/image-2-300x300.png 300w, https:\/\/onislam.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/image-2-150x150.png 150w, https:\/\/onislam.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/image-2-768x768.png 768w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p>Dua racun hati ini seringkali menyelinap tanpa disadari, mengubah ibadah yang seharusnya murni menjadi sia-sia. Dengan mempelajari kesalahan-kesalahan yang paling sering dilakukan, kita bisa meningkatkan kewaspadaan dan memastikan setiap usaha baik yang kita lakukan berlandaskan keikhlasan sejati. Ini adalah kunci utama agar amal kita tidak hanya terlihat indah di mata manusia, tetapi juga diterima di sisi Yang Maha Kuasa.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Memahami Riya dan Ujub: Musuh Keikhlasan yang Paling Halus<\/h2>\n\n\n\n<p>Riya\u2019 dan Ujub adalah dua penyakit spiritual yang memiliki dampak fatal, tetapi seringkali disalahpahami. Orang sering berpikir bahwa keduanya hanya terjadi pada ibadah besar seperti haji atau sedekah berjumlah fantastis. Padahal, <strong>Kesalahan Umum Saat Riya Dan Ujub (Edukasi) dan Cara Menghindarinya<\/strong> justru banyak terjadi pada hal-hal kecil sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Apa itu Riya&#8217;? Fokus pada &#8216;Panggung&#8217;<\/h3>\n\n\n\n<p>Riya&#8217; secara sederhana diartikan sebagai <em>pamer<\/em>, yaitu melakukan suatu amalan dengan niat agar dilihat dan dipuji oleh manusia. Riya\u2019 sering dijuluki sebagai &#8220;syirik kecil&#8221; karena ia menggeser fokus ibadah dari Allah SWT menuju perhatian makhluk.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Kesalahan umum dalam konteks Riya&#8217; meliputi:<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><em><strong>Pamer Ibadah Digital (Flexing):<\/strong> Di era modern, riya&#8217; paling sering terlihat dalam bentuk <\/em>flexing* atau pamer. Seseorang beribadah (seperti sedekah atau umrah), lalu memosting foto atau video secara detail dengan niat utama mengumpulkan pujian atau &#8220;like&#8221;.<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Memperpanjang Amalan Saat Dilihat:<\/strong> Ketika sedang salat atau membaca Al-Qur&#8217;an sendirian dilakukan singkat, tetapi saat ada orang lain (terutama yang dihormati), amalan tersebut tiba-tiba diperindah, diperlama, atau volumenya ditingkatkan.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Mengeluh Setelah Beramal:<\/strong> Setelah bersedekah atau membantu orang, seseorang merasa perlu menceritakan kelelahan atau pengorbanannya kepada orang lain, yang secara halus menarik pujian atas usahanya.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p><strong><em>Featured Snippet Optimization (Direct Answer):<\/em><\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>&gt; Kesalahan umum saat riya&#8217; sering terjadi di ruang publik dan digital, karena ibadah dilakukan untuk mendapatkan validasi dari orang lain. Kesalahan tersebut meliputi: <strong>1. Pamer Amalan di Media Sosial (Flexing):<\/strong> Mendokumentasikan sedekah atau ibadah lain untuk mendapat pujian (like\/komentar). <strong>2. Mengubah Kualitas Ibadah:<\/strong> Memperindah atau memperlama salat hanya ketika dilihat orang lain. <strong>3. Menceritakan Kebaikan:<\/strong> Mengungkap kebaikan yang telah dilakukan secara berlebihan.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Apa itu Ujub? Fokus pada &#8216;Diri Sendiri&#8217;<\/h3>\n\n\n\n<p>Jika riya&#8217; fokus pada pandangan orang lain, maka ujub fokus pada pandangan terhadap diri sendiri. Ujub adalah sikap membanggakan diri, merasa takjub, atau terlalu percaya pada amalan, ilmu, atau kelebihan yang dimiliki. Ujub terjadi ketika seseorang lupa bahwa segala kebaikan yang ia lakukan hanyalah <em>taufiq<\/em> (kemudahan dan izin) dari Yang Maha Kuasa.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Contoh-contoh kesalahan umum dalam Ujub meliputi:<\/strong><\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Merasa Paling Benar:<\/strong> Seseorang yang memiliki ilmu agama merasa dirinya yang paling benar, sehingga meremehkan atau menghakimi amalan orang lain yang berbeda pandangan dengannya.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Merasa Aman dari Dosa:<\/strong> Setelah rutin melakukan ibadah tertentu (misalnya tahajud atau puasa sunnah), seseorang merasa dirinya sudah pasti masuk surga atau aman dari godaan setan.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p><em><strong>Mencela Orang yang Belum Beramal:<\/strong> Merasa amalnya sudah banyak, lalu menghina orang lain yang belum memulai atau masih minim amalan. Sikap ini menutup pintu <\/em>tawadhu&#8217;* (rendah hati).<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Kesalahan Umum Saat Riya Dan Ujub (Edukasi) dan Cara Menghindarinya di Era Digital<\/h2>\n\n\n\n<p>Perkembangan teknologi telah menciptakan dimensi baru bagi Riya\u2019 dan Ujub. Lingkungan yang tadinya privat (amal di rumah) kini menjadi konsumsi publik, membuka lebih banyak peluang untuk terjerumus dalam dua penyakit hati ini. Memahami <strong>Kesalahan Umum Saat Riya Dan Ujub (Edukasi) dan Cara Menghindarinya<\/strong> dalam konteks media sosial adalah langkah awal perlindungan diri.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Kesalahan Digital dalam Riya&#8217;: Jurnal Hati Menjadi Tontonan<\/h3>\n\n\n\n<p>Salah satu <strong>Kesalahan Umum Saat Riya Dan Ujub (Edukasi) dan Cara Menghindarinya<\/strong> yang paling mengancam saat ini adalah saat kita mengubah jurnal spiritual pribadi menjadi konten yang mengundang perhatian. Kebanyakan orang sekarang tanpa sadar melakukan <em>riya<\/em>\u2019 digital. Mereka berbagi foto saat sedang membaca Al-Qur&#8217;an, video saat membagikan makanan kepada tunawisma, atau <em>screenshot<\/em> donasi yang telah dilakukan.<\/p>\n\n\n\n<p>Padahal, amalan terbaik adalah yang tersembunyi, yang hanya diketahui oleh kita dan Tuhan kita. Ketika niat awal murni karena Allah, tetapi setelah diposting, kita mulai menghitung jumlah <em>like<\/em> dan merasa kecewa jika responnya sepi, saat itulah Riya\u2019 telah menyusup dan merusak keikhlasan. Hal ini mengubah nilai ibadah menjadi nilai <em>engagement<\/em> media sosial.<\/p>\n\n\n\n<p><strong><em>Anekdot Pribadi (Human Touch):<\/em><\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Dulu, saya pernah berada di posisi di mana saya gemar membagikan kutipan-kutipan spiritual mendalam di media sosial. Awalnya, niat saya tulus untuk berbagi manfaat. Namun, seiring waktu, saya mulai memperhatikan siapa yang membaca, siapa yang memberi komentar, dan siapa yang menanyakan sumber ilmu saya. Ketika ada yang berkomentar negatif, hati saya langsung panas. Saya sadar betul, bahwa fokus saya sudah bergeser dari &#8220;menyampaikan kebenaran&#8221; menjadi &#8220;ingin terlihat berilmu&#8221;. Sejak saat itu, saya sadar, bahwa perang melawan Riya\u2019 dan Ujub dimulai dari mengevaluasi <em>feed<\/em> media sosial kita sendiri.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Kesalahan Digital dalam Ujub: Merasa Paling Benar dan Berilmu<\/h3>\n\n\n\n<p>Ujub digital muncul ketika seseorang memanfaatkan platformnya untuk menunjukkan superioritas spiritual atau intelektual. Mereka mungkin menyebarkan <em>story edukasi<\/em> atau <em>status motivasi<\/em> yang sebenarnya terselip rasa bangga terhadap ilmu yang dimiliki.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"1024\" src=\"https:\/\/onislam.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/image-3.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-932\" srcset=\"https:\/\/onislam.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/image-3.png 1024w, https:\/\/onislam.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/image-3-300x300.png 300w, https:\/\/onislam.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/image-3-150x150.png 150w, https:\/\/onislam.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/image-3-768x768.png 768w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p>Kesalahan ini sering terjadi di kolom komentar. Ketika berdiskusi, seseorang dengan ujub tidak akan mendengarkan argumen lain; ia hanya akan berfokus pada penyangkalan dan penonjolan ilmu yang ia miliki. Rasa ujub membuatnya merasa bahwa <em>dialah<\/em> yang layak memberikan nasihat, bukan karena tugas, tetapi karena ia yakin amalnya lebih banyak, ilmunya lebih tinggi, dan pemahamannya lebih lurus dibandingkan orang lain.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Langkah Praktis Menjaga Hati: Strategi Menghindari Riya dan Ujub<\/h2>\n\n\n\n<p>Menghindari <strong>Kesalahan Umum Saat Riya Dan Ujub (Edukasi) dan Cara Menghindarinya<\/strong> memerlukan upaya yang berkelanjutan, sebuah proses yang dalam Islam dikenal sebagai <em>tazkiyatun nafs<\/em> (pembersihan jiwa). Ini adalah pertarungan seumur hidup, namun ada strategi praktis yang bisa diterapkan.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">1. Perbaiki Niat Sejak Awal (Muhasabah)<\/h3>\n\n\n\n<p>Kunci utama untuk mencegah <strong>Kesalahan Umum Saat Riya Dan Ujub (Edukasi) dan Cara Menghindarinya<\/strong> adalah fokus pada niat. Sebelum melakukan suatu amalan, ambillah waktu sebentar untuk bertanya pada diri sendiri: <em>Untuk siapa saya melakukan ini?<\/em> Jika jawabannya adalah karena ingin dipuji atau mendapat imbalan duniawi, maka niat itu harus segera diluruskan.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Tips Praktis Menjaga Niat:<\/strong><\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Ibadah Rahasia:<\/strong> Tentukan satu amalan harian yang benar-benar tidak diketahui oleh siapa pun kecuali Anda. Misalnya, sedekah subuh yang tersembunyi atau dua rakaat salat malam yang tidak diunggah ke media sosial. Ini adalah latihan keikhlasan yang terbaik.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p><em><strong>Instal &#8216;Filter Hati&#8217;:<\/strong> Sebelum memencet tombol <\/em>share<em> atau <\/em>post* di media sosial tentang suatu kebaikan, bayangkan apakah Tuhan kita akan senang dengan postingan ini ataukah kita hanya mencari perhatian manusia. Jika kita ragu, lebih baik tidak diposting.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">2. Mengamalkan Tawadhu&#8217; dan Syukur<\/h3>\n\n\n\n<p>Ujub adalah kebalikan dari <em>tawadhu&#8217;<\/em> (rendah hati) dan <em>syukur<\/em> (berterima kasih). Orang yang ujub melihat amalan sebagai hasil murni dari usahanya, sementara orang yang tawadhu&#8217; selalu melihat kelemahan diri sendiri.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Kesalahan Umum Saat Riya Dan Ujub (Edukasi) dan Cara Menghindarinya<\/strong> akan berkurang drastis jika kita menanamkan kesadaran bahwa segala hal baik yang kita lakukan\u2014kesempatan beribadah, ilmu, kekayaan, dan kesehatan\u2014bukanlah milik kita, melainkan pinjaman dan karunia dari Allah SWT. Ini adalah konsep yang disebut <em>taufiq<\/em> atau pertolongan.<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Analogi Air dan Wadah:<\/strong> Ilmu dan kebaikan ibarat air. Wadah yang ujub dan sombong (seperti gelas kosong yang diangkat tinggi) akan mudah tumpah atau bahkan pecah. Sebaliknya, wadah yang tawadhu&#8217; (seperti padi yang semakin berisi semakin merunduk) akan mampu menampung lebih banyak kebaikan dan keberkahan tanpa terombang-ambing oleh pujian.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p><em><strong>Selalu Ucapkan Alhamdulillah:<\/strong> Setiap kali pujian datang, kembalikan pujian itu kepada Pemberi Segala Kebaikan. Ucapkan <\/em>Alhamdulillah, dan sadari bahwa tanpa izin-Nya, kita tidak akan mampu melakukan apa-apa.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Kesimpulan<\/h2>\n\n\n\n<p>Perjuangan menghindari <strong>Kesalahan Umum Saat Riya Dan Ujub (Edukasi) dan Cara Menghindarinya<\/strong> adalah pertarungan abadi dalam diri setiap mukmin. Riya\u2019 dan Ujub adalah penyakit yang sangat halus, mampu merayap masuk ke dalam niat kita secepat nyala api yang menghanguskan kayu kering.<\/p>\n\n\n\n<p>Melalui pemahaman yang mendalam tentang sifat dan manifestasi kedua penyakit hati ini\u2014terutama dalam konteks modern media sosial\u2014kita dibekali dengan kesadaran untuk menjaganya. Ingatlah, bahwa tujuan utama beramal adalah mencapai keridaan-Nya, bukan tepuk tangan manusia. Dengan menjaga <em>ikhlas<\/em> sebagai pondasi dan <em>tawadhu\u2019<\/em> sebagai mahkota, kita dapat meminimalisir <strong>Kesalahan Umum Saat Riya Dan Ujub (Edukasi) dan Cara Menghindarinya<\/strong> dan insya Allah, amal kita akan menjadi bekal yang tulus di akhirat kelak.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)<\/h2>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Apakah Berbagi Ilmu di Media Sosial Otomatis Termasuk Riya\u2019?<\/h3>\n\n\n\n<p>Tidak otomatis. Berbagi ilmu, motivasi, atau kebaikan di media sosial adalah praktik yang bisa saja bernilai ibadah jika niatnya murni <em>lillahi ta&#8217;ala<\/em> (karena Allah) untuk menyampaikan pesan kebenaran atau menginspirasi orang lain, tanpa mengharapkan pujian atau pengakuan. Namun, itu menjadi riya\u2019 saat niat utama bergeser dari berbagi manfaat menjadi mencari validasi atau pujian diri.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Apa bedanya antara Ujub dan Percaya Diri (Self-Confidence)?<\/h3>\n\n\n\n<p>Perbedaannya terletak pada sumber rasa bangga. <strong>Percaya diri<\/strong> adalah keyakinan akan kemampuan diri yang didasarkan pada usaha dan persiapan yang rasional, tanpa merendahkan orang lain, dan tetap menyadari bahwa kemampuan itu adalah pemberian. <strong>Ujub<\/strong> adalah rasa takjub pada diri sendiri yang didominasi oleh keangkuhan dan melupakan bahwa segala capaian adalah karunia, sehingga timbul sikap meremehkan orang lain atau merasa aman dari kesalahan.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Bagaimana cara membedakan Riya\u2019 yang disengaja dengan dorongan hati yang tiba-tiba ingin dipuji?<\/h3>\n\n\n\n<p>Riya&#8217; yang disengaja adalah Riya&#8217; yang muncul sebelum atau saat beramal, di mana tindakan itu dilakukan <em>karena<\/em> manusia. Dorongan hati yang tiba-tiba ingin dipuji (<em>sum&#8217;ah<\/em>) bisa muncul <em>setelah<\/em> beramal. Jika dorongan ini muncul, tugas kita adalah segera melawannya dengan <em>istighfar<\/em> dan mengembalikan fokus pada niat awal. Jika kita terus membiarkan dan mengikuti dorongan itu, maka ia bisa berubah menjadi Riya&#8217; yang merusak amal.<\/p>\n\n\n\n<p>*<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Setiap orang yang beramal baik pasti mendambakan ganjaran yang tulus dari-Nya, bukan pujian dari sesama manusia. Namun, perjalanan menjaga hati [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":931,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"site-sidebar-layout":"default","site-content-layout":"","ast-site-content-layout":"default","site-content-style":"default","site-sidebar-style":"default","ast-global-header-display":"","ast-banner-title-visibility":"","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"","ast-breadcrumbs-content":"","ast-featured-img":"","footer-sml-layout":"","ast-disable-related-posts":"","theme-transparent-header-meta":"","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":"","astra-migrate-meta-layouts":"default","ast-page-background-enabled":"default","ast-page-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"ast-content-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-930","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/onislam.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/930","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/onislam.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/onislam.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/onislam.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/onislam.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=930"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/onislam.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/930\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":933,"href":"https:\/\/onislam.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/930\/revisions\/933"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/onislam.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/931"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/onislam.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=930"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/onislam.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=930"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/onislam.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=930"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}